Udin Pengen Mudik Pakai Mobil

Gak kerasa bentar lagi lebaran, tidak sampai seminggu lagi. Seperti kebiasaan, keluarga Udin tiap lebaran pasti bakal ke rumah nenek. Ya, terdengar sangat mirip seperti cerita anak-anak, tapi memang begini kenyataannya, mau gimana?

Untuk lebaran tahun ini, entah kenapa si Udin tidak bersemangat, padahal biasanya dia yang paling semangat tiap kali lebaran dan pergi ke rumah nenek. Aku sendiri bingung ada apa dengan adikku ini. Jadi gini ceritanya
---
Tiga hari sebelum lebaran, seperti tahun-tahun sebelumnya, keluargaku melakukan tradisi membuat kue lebaran. Walaupun aku dan adikku, Udin adalah laki-laki, kami tetap membantu membuat kue, bahkan ayah juga ikut membantu. Tiap tahun Udin selalu antusias di tradisi ini, kami bisa membuat banyak kue karena dia, bahkan saat mudik ke rumah nenek, seluruh keluarga berhasil dibuat kekenyangan karena kami bawa kue sangat banyak. Tapi, ada yang berbeda tahun ini, Udin kelihatan tidak bersemangat.

“Lu kenapa, tadi kurang makan pas ya pas sahur?” tanyaku saat melihat Udin sangat gemulai mengaduk tepung, saking gemulainya sampai-sampai akhirnya dia hanya memainkan tepung tanpa teraduk.

Dia menolehku, “Gak apa-apa,” jawabku dengan tidak kalah gemulai seperti tangannya, setelahnya matanya kembali terfokus ke tepung dan memainkannya lagi.

“Kalau capek, sini ibu yang gantiin,” ucap Ibu mendatangi Udin, “tidur sana. Kalau kamu begitu terus kapan selesainya.”

Setelah itu Udin langsung berdiri dan pergi ke kamarnya.

“Din,” langkahnya terhenti dan menolehku, “itu tangan dicuci dulu, ada bekas tepung, nanti bangun-bangun jadi kue,” ibuku tertawa mendengarnya. Tapi Udin tetap dengan muka datarnya, dia hanya tersenyum tipis. Setelah membasuh tangan dia ke kamarnya.

“Adikmu kenapa, Rif?” tanya Ibu sambil mengaduk tepung.

“Aku juga gak tau, Bu. Dari tadi dia diam mulu,” jawabku.

“Perasaan dia sahur makannya banyak kok tadi,” ucap ibu.

“Nanti deh habis ini selesai aku tanyain,” kataku.

“Kan tadi Ibu nyuruh dia tidur, apa dia gak tidur sekarang?”

“Gak bakal, Bu. Yakin deh, hehehe.”

“Baiklah,” kata ibu, “sekarang selesaiin ini dulu,” aku mengangguk.
***
Setelah selesai, aku ke kamar Udin, “Aku tau apa yang dia kerjain kalau galau begini,” gumamku. Saat memasuki kamarnya, “benar kan dugaanku,” kutemukan dia tidak tidur, tapi dengan joystick di tangan dan mata fokus melihat layar laptop yang isinya 22 pemain saling berebut bola. Ya, bukan hanya Udin, aku juga punya kebiasaan bermain game, terutama yang ada hubungannya dengan bola apabila galau, dan biasanya pun curhat sambil beginian.

Aku langsung berjalan ke arah laptop dan menekan tombol ‘ESC’, kemudian setelah beberapa klik, kuambil joystick satunya, “Biasanya orang galau makin hebat, aku mau buktiin,” kataku sambil memandang Udin. Dia tetap fokus ke layar tapi dalam diam, aku tau dia menerima tantanganku. Akhirnya kami main game bersama.

“Jadi, tadi lu kenapa?’ tanyaku.

“Gue pingin mudik pakai mobil, Bang,” ujarnya. Kutekan tombol ‘Start’ di joystick, game terhenti, dia menolehku, “kena…,”

“Cuma mau mobil?” kataku memotong, dia mengangguk. Aku tersenyum, kemudian kukeluarkan game, aku membuka browser dan menuju website Cermati, kemudian kusodorkan pada Udin, “bilang dong dari tadi. Lihat nih,”

Setelah itu melihat, dia menggaruk-garuk kepala, “Apaan ini, Bang?”

“Ya elah, gak bisa baca? Itu kredit mobil bekas,” jawabku, “kan ayah dapat THR tuh, kalau lu mau mobil, biar gue bantu bilangin sama dia buat kredit mobil bekas, kali aja mau.”

“Apa ini terpercaya?” Udin terlihat ragu.

Cermati ini udah teruji, selain kredit mobil bekas, mereka juga ada buat keperluan pinjaman yang lain, kartu kredit, simpanan kayak tabungan, sampai yang syariah lo, pokoknya percaya deh. Nah, pilihannya juga banyak nih, kita bisa milih harga mobilnya sama tenor kredit, terus tiap pilihan di awal udah ada suku bunga, uang muka, sama cicilan/bulan, nanti kalau ngerasa sreg, tinggal klik ‘selengkapnya’ biar tau detailnya,” jelasku panjang lebar.

Setelah itu muka Udin langsung sumringah, diambilnya laptop kemudian beranjak keluar.

“Eh, mau kemana?” tanyaku.

“Ke kamar ayah lah, biar bisa mudik pakai mobil tahun ini,” jawabnya, kemudian dia pergi.

1 Komentar:

Ciyee tulisannya berbayar. :D

Hmm, agak bingung sama ending-nya. Ke kamar ayah mau buka minjem laptop terus buka web gitu, ya? Hehehe.

IBX59EADF1D9DDBB

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *