Tanpa Pulsa Bikin Auto-Traktir

Sekarang adalah zaman dimana bahwa masing-masing individu harus punya minimal dua hp, satu hp canggih dan satu yang butut. Satu untuk smsan dan telepon, satunya untuk social media. Setidaknya ini yang bisa kusimpulkan dari teman-temanku. Mereka pasti kemana-mana membawa dua buah hp, dan kadang untuk berkomunikasi dengan orang yang berbeda, hpnya juga berbeda.

Nah, salah satu yang paling penting dari hp itu adalah pulsa, tanpa pulsa sebuah hp bagaikan tanpa bahan bakar. Sia-sia. Walaupun sekarang ada paket internet yang bisa membuat kita tetap eksis tanpa pulsa, tetap saja pulsa menjadi hal penting, bisa saja tetiba jaringan internet menghilang, ada hal penting yang perlu diberitahu, terpaksa harus sms atau telepon, tanpa pulsa semuanya sia-sia. Atau tiba-tiba kuota habis, lah, kalau gak ada pulsa, mana bisa memperpanjang.

Soal pulsa, aku jadi keingat kejadian hari itu, jadi begini,
---
Dari pagi hari sudah mulai murung, matahari jadi enggan memancar, hatiku jadi mulai galau. Bukannya baper, tapi hari ini ada janji makan bersama teman-teman, aku sudah berjanji nanti siang mentraktir mereka.

Kulihat layar hp, saldo pulsa terpampang nyata telur bulat sempurna, nol rupiah, paket internet baru saja putus kemarin, aku tidak bisa berkomunikasi. Konter ‘Pulsa Elektrik Jakarta’, satu-satunya konter yang menjual pulsa murah malah tutup, entah kenapa di saat genting seperti ini mereka malah menjauh dariku. Ah, galau jadinya. Aku tidak punya nomor mereka dan mereka pun sama, kami biasanya komunikasi via BBM, dan tanpa internet, aku tuli.

Jam sudah menunjukkan pukul dua belas, sudah tengah hari, aku berjanji mentraktir jam satu, hari sudah mulai ceria, tapi murung masih menjadi mayoritas. Setelah berpikir ribuan kali dan menggedor konter berkali-kali tapi tetap tidak digubris, aku berangkat ke tempat makan. Setelah bersiap-siap, memastikan tidak ada yang tertinggal, termasuk uang untuk traktir, kugowes sepedaku.

Jarak antara rumah dengan tempat traktiran lumayan jauh, tapi karena semua kendaraan bermotor di rumah lagi dipakai, aku terpaksa menggowes. Di jalan, hari yang tadinya mulai cerah malah kembali murung, bahkan mentari yang sempat bersinar hilang, hari sangat gelap. Aku baru setengah jalan, kupercepat gowesanku. Sayang, akhirnya air jatuh dari langit, tempat makan masih belum terlihat, aku terpaksa berteduh di emperan toko.

Jam sudah menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit, hujan masih belum terlihat ingin beranjak. Lima belas menit kemudian, satu per satu air mulai berhenti jatuh, matahari yang dari pagi malu-malu, akhirnya dengan perkasa memancarkan sinar, beberapa menit setelahnya, siang yang benar-benar siang akhirnya datang. Walaupun sudah hampir pukul dua, aku masih berharap mereka ada di sana.

“Oh, mereka baru aja pulang tadi, katanya sebentar lagi ada yang mau membayar tagihannya,” jawab pelayan saat kutanya tentang teman-temanku. Mendengar itu aku langsung mengeluarkan uang sesuai dengan tagihan mereka. Tempat makan ini memang salah satu ajang kejujuran juga, tagihan mereka bisa dibayar belakangan asal hari itu juga, konsep unik untuk menguji kejujuran. Setelah membayar, aku pulang. Aku lega, walaupun tidak bisa bertatap langsung dengan mereka, paling tidak janji sudah lunas.

Di jalan aku bertemu salah satu temanku, “Hei, makanannya enak gak?” tanyaku padanya. Kebetulan dia juga bersepeda, jadi kami beriringan.

“Hah, makan apa?” tanyanya bingung.

“Yang aku traktir tadi.”

“Lah, bukannya gak jadi?”

“Hah, tadi udah aku yang bayar kok.”

“Kami gak baca di grup?”

“Paketku habis tadi malem, konter pulsa tempatku tutup, jadi…,” belum sempat kuselesaikan ucapanku, dia mengerem, aku juga ikut merem.

Dia turun dari sepeda dan mengeluarkan hpnya, “Berapa nomormu?”

Kusebutkan nomorku, “Eh, buat apa?” tanyaku setelahnya.

“Aktifkan dulu paketmu,” dia tidak menjawab malah menyuruhku.

“Tapi kan pulsa…,” kalimatku terpotong setelah bunyi notifikasi sms menggema di kantong celanaku, kukeluarkan hp dan ternyata is isms bahwa pulsaku sudah terisi. Aku melihat ke arah temanku,

“Ayo cepat aktifkan,” itu respon ketika aku melihatnya.

“Kau sekarang jualan pulsa elektrik ya?” tanyaku sambil mengaktifkan paket.

“Ya, lumayan buat nambah uang jajan,”

“Cuma perlu satu hp aja ya?”

“Iya lah, aku kan pakai PojokPulsa, jadi cukup satu hp untuk semua operator, bahkan ini juga bisa buat beli token listrik dan voucher game, lengkap dah pokoknya.”

“Wah, ker…,” belum sempat kuselesaikan kalimatku, setelah paket internetku aktif dan melihat notifikasi BBM, “ah, dibatalin gara-gara mau hujan, jadi tadi aku bayarin tagihan siapa dong?”

“Mana kutau,” setelah itu dia menaiki sepedanya, baru mau mengayuh, “karena kamu temanku, pulsa dari ‘Pulsa Murah Jakarta’ tadi, aku kasih gratis,”


Setelah itu dia pergi meninggalkanku yang masih kebingungan, “Jadi, tadi aku bayar tagihan siapa?” tanyaku pada diri sendiri.

Lomba Blog Pojok Pulsa 2015

5 komentar:

  1. Sekarang itu orang emang lebih dilema kalau kehabisan paket data dan pulsa dibandingkan dengan gak punya pacar. HaHaHa

    BalasHapus
  2. Elah salah bayar tagihan wkwkwk sial juga ya :v

    BalasHapus
  3. hanjir, hadiah lomba blognya gede juga ^^ goodluck, semoga menang ya :D

    BalasHapus
  4. Bahahah.. Bayar tagihan pulsa siapa cobak :v

    BalasHapus

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *