Duapuluhdua

Duapuluhdua, dua yang bertemu dua kali

Jarak dengan tembok sudah cukup jauh, dari belakang masih kelihatan tapi aku tidak peduli lagi.

Waktu itu aku gagal karena tembok di depan kokoh berdiri. Sekarang, aku berada di depan jalan, tidak ada tembok, tinggal menyeberang. Jalan bukan berarti tidak ada yang menghalangi, dia ada di seberang, namun jalan ini tidak semudah jalan tempat biasa berjalan.

Kemarin gagal karena tembok tidak bisa dinaiki, sekarang hanya jalan yang diseberangi. Ya, aku yakin kali ini.

Layaknya 11.11, 22.22 itu waktu mujarab

Halangan di depan ternyata tidak semudah kerikil di pinggiran jalan, sudah beberapa kali kucoba singkirkan, dia tetap kokoh, persis seperti tembok, angkuh.

Yang di seberang pun bergeming, dia bisa melihatku di sini, aku sudah mengatakan ingin ke seberang berkali-kali. Sampai saat ini, dia masih (hanya) menatapku.

Jujur, lebih dari sekali jalan ini ditutup. Aku tidak berjalan di jalan bebas hambatan, tapi jalan dengan halangan dan sistem buka tutup (yang fase buka bukan buka yang memang terbuka).

Tapi, untuk kedua kalinya, layaknya dua yang kedua di duapuluhdua, aku percaya ini takdir. Takdir yang lebih waras daripada mewaraskan tembok yang kupaksa disamakan dengan takdir.

Ya, sudah kugenggam takdir yang kutinggalkan di depan tembok.

5 Komentar

sadis . hancurkan saja ka tembok penghalang itu .

Setuju tuh, hancurkan aja, perlah tapi pasti :D

Ini puisii apa nih. Coba lo jelasin ke gue ki.

Yg gue tangkap sih, lo ini mau pdkt ya sama cewek yg punya cowok dan cowoknya skrng udah putus.

Agak bingung sih gue memaknai tulisan ini. Hahaha
Efek laper mungkin ini ya, ki. :D

hahhaha mbok ya jangan bahas tembok mas. Tembok gak kemana-mana, tinggalin aja, cari tembok yang baru. #lah

IBX59EADF1D9DDBB

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *