Marlina, Film Satay Western Pertama Nusantara

Janda dan tinggal di rumah yang ditemani kesendirian. Sudah tanpa suami, tanpa tetangga lagi. Perlukah Marlina dikasihani? Tidak. Begitu yang kiranya ingin disampaikan Mouly lewat "Marlina si Pembunuh Empat Babak".

Babak pertama. Perampokan. Marlina yang janda dan tinggal di tempat yang tidak ada sesiapa di sekitar didatangi kawanan perampok. Tujuh orang. Marsha Timothy memerankan Marlina dengan sangat baik. Marlina diperankan sebagai seorang wanita yang tanpa emosi meluap-luap. Sangat tenang malah.

Kawanan perampok dipimpin Markus (Egi Fadly). Terang-terangan dia mengatakan ingin merampok, menjarah ternak, dan meniduri Marlina. Gusarkah Marlina? Ya. Terlihatkah? Sedikit. Ia sadar kalau berteriak tidak ada yang mendengar, kalau berlari pasti akan terkejar. Jadi, empat tewas dan satu buntung di tangan Marlina.

Babak pertama habis.

Cerita selesai? Belum. Masih ada Perjalanan, Pengakuan, dan Kelahiran.

Walaupun sudah menghabisi perampok, Marlina merasa masih harus menuntaskan dendam. Membalaskan kebebasannya yang sudah ternodai. Dengan membawa kepala Markus, babak kedua dimulai.

Selain Marlina, Novi (Dea Panendra) juga merasakan beratnya beban hidup. Novi merupakan perempuan yang menahan berbagai tudingan karena hamil besar, 10 bulan belum juga melahirkan. Ada pula Mama penumpang (Rita Matu Mona) yang menggambarkan peran perempuan dalam rumah tangga keluarga besar.

Ketegaran perempuan-perempuan ini jelas tergambar saat senyum bengis Marlina tersungging kala satu per satu perampok tumbang karena racunnya. Juga ketika para lelaki ketakutan (bahkan kabur) melihat 'bawaan' Marlina, Novi dan Mama penumpang tidak menunjukkan reaksi seperti mereka.

Sayangnya kekuatan mereka masih terkukung di belakang para lekaki. Novi tetap berusaha keras meyakinkan suaminya tentang berbagai mitos kehamilannya dan Marlina hanya diminta sabar oleh polisi (Ozzol Ramdan) ketika mengadukan kasusnya.

Dari segi latar, pemandangan Sumba benar-benar memanjakan mata sepanjang film. Rasa deg-degan yang dirasakan bisa sedikit diredam ketika lanskap Sumba ditampilkan secara menyeluruh. Juga ketika 'sup ayam' dibicarakan.

Diberi genre sebagai satay western alias western-nya Indonesia (karena Indonesia terkenal dengan sate), film ini menunjukkan Marlina sebagai sang jagoan di tengah padang savana yang jauh dari aparat. Banyak kritik sosial terutama tentang hubungan lelaki dan perempuan yang jarang diumbar di sini.

Saya tau harus keluar dari zona nyaman agar bisa menikmati film saya. Tapi film seperti ini penting dibuat (juga ditonton) karena kita patut keluar dari zona nyaman agar bangsa bisa berkembang - Mouly

3 Komentar

Aku pengen nonton film2 indonesia tapi, ah sudahalah. Susah mau nonton di mana. Wkwkwkw

gile. keren nih. dari alur ceritanya aja menarik banget. film yang anti mainsream. banyak pesan nih dari film ini. tx untuk reviewnya.

Janda jaman now menyeramkan juga ya hehe
Pasti seru film action yang peran utamanya cewek, ada kesan yang gimana gitu deh pokoknya

IBX59EADF1D9DDBB

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *