Melihat Perbatasan melalui Rumah Merah Putih

Resensi Film Rumah Merah Putih
 Saya Rifqi, papa Jawa, mama Banjar, saya Indonesia!

Di bulan ini, sineas tanah air kembali menghadirkan film yang membangkitkan rasa nasionalisme. Film garapan Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen ini berjudul "Rumah Merah Putih". Film kesembilan Alenia Pictures ini berfokus pada dua sahabat, Oscar (Amori de Purivicacao) dan Varel (Petrick Rumlaklak). Berawal dari hilangnya cat merah putih menjelang hari kemerdekaan, mereka berdua terlibat dalam petualangan mengharukan. 

Berlatar tempat yang dekat dengan perbatasan, Silawan, film ini menawarkan keindahan Nusa Tenggara Timur (NTT). Keindahan NTT sudah diperlihatkan sejak pembuka film. Sinematografi yang diberikan mengingatkanku dengan Marlina, Si Pembunuh Empat Babak. Pemandangan yang diberikan tidak kalah menyegarkan mata dengan Marlina.

Sesuai judulnya, film ini banyak memberikan 'doktrin' persatuan. Tidak seperti film Lima yang memperlihatkan persatuan berdasarkan sila dalam pancasila, Rumah Merah Putih memperlihatkan sudut pandang persatuan dari warga perbatasan. Penonton akan ditunjukkan bagaimana anak-anak diajarkan untuk bangga dengan Indonesia. Salah satu yang melekat di ingatan kujadikan kalimat pertama postingan ini. Itu adalah template perkenalan anak Silawan kepada orang yang baru kenal.
Salah satu inspirasi dari film ini adalah anak viral yang memanjang tiang bendera dan membantu merah putih gagah berkibar di angkasa. Nantinya akan ada 'reka ulang' dari adegan tersebut. Sayangnya, adanya adegan tersebut membuat film kehilangan fokus. Konflik yang dibangun tentang susahnya kehidupan di perbatasan tiba-tiba 'ditimpa' dengan adegan yang sebenarnya tidak diperlukan.

Kisah dua sahabat juga kurang digali, akibatnya banyaknya adegan menangis yang ada di film ini tidak memberikan simpati kepada penonton. Malah terkesan 'lebay'. Apalagi ketika ada salah satu adegan sedih dengan latar belakang lagu yang diiringi para pemain. Mereka menyanyikan lagu tersebut sambil menangis. Apakah adegan ini diperlukan?

Adegan reka ulang memanjat tiang bendera juga terlalu dibuat-buat. Terlalu banyak adegan menangis di film ini. Tidak semua kesedihan harus ditunjukkan dengan ekpresi yang terlalu gamblang. Seperti Raihanuun yang mampu memerankan May tanpa harus melalui ekspresi berlebihan.

Kisah pilihan antara negara sebelah atau tanah air tercinta memang diperlihatkan. Tapi seperti kisah Oscar dan Varel, kehidupan di perbatasan tidak terlalu digali. Semuanya tuntas ketika seorang anak melakukan aksi heroik memanjat tiang bendera. Seandainya tidak ada adegan tersebut, sepertinya film ini punya waktu yang cukup untuk menggali konflik yang sudah dibangun sejak awal.

Tapi, akting para pemerannya patut diacungi jempol. Walaupun para anak-anak di film ini baru pertama kali bermain film, akting mereka cukup memukau. Selain itu, salah satu yang menarik di sini adalah tradisi bersirih atau menginang (makan pinang) yang ditunjukkan. Ini membuktikan bahwa film ini juga ingin mengangkat budaya yang sudah mulai dilupakan.
Resensi Film Rumah Merah Putih
Keindahan alam NTT adalah keunggulan utama film ini. Adegan-adegan penanaman rasa nasionalisme di wilayah perbatasan juga bisa menumbuhkan rasa yang sama pada penonton. Sayangnya adanya 'reka ulang' membuat film mulai goyah, padahal konflik yang dibangun sudah lumayan bagus. Secara keseluruhan, film ini bisa dijadikan pilihan untuk memupuk rasa nasionalisme. 

1 Komentar:

Resensinya menarik, namun akan lebih lengkap lagi apabila di akhir resensi, penulis menuliskan rating dari film yang diresensinya. 🙏

IBX59EADF1D9DDBB

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Ikuti lewat Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *