PKN STAN Goes to Village - Hari Keempat


Sesuk mulih! Tidak terasa sudah tiga hari kami berada di Desa Talaga Sari, besok waktunya  pulang. Di hari keempat, aku menghabiskan waktu lebih banyak bersama teman-teman angkatan 2016 apalagi siang hari.

Sebelum ke siang, mari mulai hari dengan pagi. Mas Wing dan Dwi pagi ini membuat tulisan penanda KKN PKN STAN 2018 di tempat sampah menggunakan cat semprot. Setelah selesai sarapan dengan lontong sayur mamake (lagi), Cindy menulis penanda yang sama di tempat sabun menggunakan spidol. Sebenarnya tempat sabun ini berwujud asli talenan, akal cemerlang mas Ivan yang telah merubahnya menjadi tempat sabun.

Rencana hari ini adalah pergi ke BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) berupa peternakan lele. Entah kesalahan siapa, hal ini tidak terlaksana. Mas Ivan dan mas Wing pergi ke SD untuk memastikan apakah bisa didatangi besok pagi, ini untuk menghindari kegabutan. Aku dan yang lain memilih mengelilingi desa.

Sebelum berjalan jauh, kami mengisi tenaga dengan makan bakso. Awalnya ingin makan mie instan di tempat mamake karena kemarin tidak jadi makan itu, tapi karena ingin menjelajah lebih jauh, kami mencari tempat makan yang agak jauh. Nah, itulah yang membuat kami mendapatkan bakso. Karena dikelola oleh mas-mas, kami menjuluki beliau bapake. Ini agar mamake kami punya pasangan.

Setelah kenyang, perjalanan dilanjutkan. Salah satu tujuan kami mencari sawah. Kenapa? Saat menyusun rencana jalan-jalan, Dwi mengatakan temannya memberikan foto sawah. Kata warga sekitar, itu berada di Talaga Sari.

Setelah kami selesai berjalan, ada beberapa fakta yang didapat. Pertama, jalan yang dilewati adalah perbatasan. Jadi, desa Talaga dan Talaga Sari adalah desa yang dipisahkan jalan. Fakta selanjutnya, tidak ada sawah. Desa ini malah dikelilingi industri. Entah dimana foto sawah yang didapatkan teman Dwi. Nah, yang terakhir adalah sebuah fakta bahwa jalan yang kami lewati itu berputar. Tetiba saja kami sudah berada di tempat bapake. Sebagai penutup perjalanan, kami membeli es krim. Ketika sudah sampai di Posyandu, setelah menghabiskan es krim, kami memasang tempat sabun di kamar mandi.

Malam ini kami ditemani tempe mendoan. Coba tebak dari siapa. Yap, dari mamake. Selesai makan tempe mendoan, aku dan mas Wing pergi berburu durian. Setelah ketemu, harganya memang murah, hanya sepuluh ribu per buah, sayang sekali rasanya juga semurah harganya. Hambar. Tapi daripada tidak beli, dibelilah beberapa. Selesai berpesta durian (hambar), sebelum bersiap-siap ke SD besok, kami menutup hari dengan martabak manis dan telur.

1 Komentar:

waduh buahnya murah banget, terjangkau.... beli dimana tuh durian

IBX59EADF1D9DDBB

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Ikuti lewat Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *