Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Perjalanan Cinta (Monyet)ku: Masa(lah) Cinta Part 1

Perjalanan kisah cintaku tidak berakhir di SMA. Hanya masa-masa fakboi yang benar-benar tuntas di SMA. Saat kuliah, fokus untuk mengejar masa depan apalagi dengan kuliah di kampus kedinasan membuatku tidak bisa asal mencari cinta. Ditambah umur yang mendekati kepala dua membuatku makin mantap untuk mencari pasangan yang dibawa ke jenjang lebih suci. Setelah tamat akad nikah. Itu salah satu plesetan dari kampusku.

Kisah Masa Kuliah

Masa kuliah tentu jauh berbeda saat sekolah. Aku sekolah di tempat yang sama sejak SD sampai SMA, apalagi daerahku wilayahnya kecil dan tidak ada apa-apa. Anak kampung yang jarang keluar rumah tiba-tiba merantau ke tempat yang berada di samping ibukota negara. Ini adalah hal yang sangat merubah hidup. Sekarang aku sudah kembali ke tanah kelahiran walaupun di provinsi yang berbeda. Berbagai kenangan di Bintaro tidak akan terlupa. Kisah cinta disini pun begitu menarik dan jauh berbeda ketika saat sekolah.

Mengejar yang Tidak Mau

Hari itu ayah pulang. Setelah menemani di tiap rangkaian tes di berbagai kampus, hari itu ayah melepasku. Saat melepas kepergian di salah satu swalayan besar dekat kampus tempat taksi daring menjemput, aku biasa saja. Tapi malamnya, aku kesepian. Benar-benar hari itu aku merasa sendiri yang pertama kali. Tidak ada siapa-siapa. Apalagi memang aku datang sendiri ke kampus itu, kakak kelas yang menawarkan indekos masih belum datang dan tidak punya teman satu sekolah yang lolos.

Besoknya, aku meet up dengan teman-teman seangkatan. Orang-orang pertama yang kukenal di kampus. Salah satunya adalah wanita yang kukejar (nantinya). Salah satu pengejaran terlamaku selama ini. Apalagi kali ini situasinya berbeda. Kali ini aku tidak menerornya tiap hari dengan mengajak jadian seperti saat SMP. Tentunya banyak pelajaran selama jadi fakboi untuk lebih elegan. Sayangnya, hasilnya nihil. Aku telah dibutakan oleh cinta. Sebenarnya sangat terlihat bahwa dia sama sekali tidak tertarik. Hanya kepribadiannya yang memang baik (dan itu ke semua orang). Satu hari, aku akhirnya memilih untuk menyerah dan mengatakan hal itu padanya. Tidak berapa lama, dia jadian. Ya, makin sadar bahwa aku adalah penghalang.

Baper Kehujanan

Aku tidak susah move on seperti saat SMA. Hanya saja aku merasa bahwa cinta bukan satu-satunya hal yang kukejar. Setelah mengakhiri pengejaran dengan wanita itu, aku tidak lagi mencari-cari seperti fakboi yang haus wanita seperti saat sekolah. Kubiarkan semuanya mengalir. Apalagi banyak kegiatan yang bisa kulakukan. Aku mulai terbiasa menonton film di bioskop dan menikmati suasana ibukota.

Salah satu barang yang wajib dibawa saat ospek kampus adalah payung. Budaya ini terus kulestarikan saat kuliah. Ternyata kisah cinta selanjutnya terjadi karena pilihanku mempertahankan budaya ini. Hari itu hujan deras, ada salah satu anak kelas yang tidak bawa payung. Kutawarkan untuk sepayung berdua. Kala itu tidak ada niatan sebagai seorang fakboi, murni karena memang ingin membantu. Dia mengiyakan. Entah karena dia takut karena hujan begitu deras atau alasan lain, tanganku terus digenggam sepanjang perjalanan mengantarkan dia ke indekos. Aku baper.

Sejak hari itu aku mulai mencoba mendekatinya. Wanita ini adalah salah satu orang yang jarang membuka ponsel untuk hal tak penting sehingga komunikasi kami di luar kelas sangat jarang. Aku yang terbiasa mendekati secara tidak langsung lewat daring kesusahan. Sulitnya halangan untuk mendekati membuatku mengakhiri pengejaran. Tapi aku ingat pernah menyatakan dan saat itu dia menolak.

Ini baru setengah. Nantikan lanjutan kisahnya di kesempatan berikutnya.
Muhammad Rifqi Saifudin
Muhammad Rifqi Saifudin Abdi masyarakat yang senang menangkap momen dalam bentuk cerita. Bisa dihubungi di: - rifqimu@gmail.com - @m_rifqi_s (Instagram) - @mrifqi_s (Twitter)

Posting Komentar untuk "Perjalanan Cinta (Monyet)ku: Masa(lah) Cinta Part 1"