Review Boy Overboard

Judul : Boy Overboard (Bocah Lintas Batas)
Penulis : Morris Gleitzman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka
Tempat Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2003
Halaman : 216 Halaman
ISBN : 979-22-0385-0

Sinopsis :
Kalau Sir Alex Ferguson-manajer Manchester United-melihat bakatku, dia pasti menerimaku jadi anggota tim juniornya. Tapi ternyata adik perempuanku, Bibi, lebih anda menggiring bola dan larinya lebih cepat. Dia juga penyerang yang lebih baik

“Kalu juga bisa kalau lebih banyak berlatih, Jamal,” katanya sambil menyeringai. Padahal aku yang mengajarinya di rumah.

Kami terpaksa berpisah dengan lapangan berdebu tempat kami biasa bermain bola karena Pemerintah tahu soal sekolah illegal Ibu dan Ayah. Padahal aku begitu terbiasa dengan kerangka truk tentara, puing reruntuhan rumah, atau besi tua badan pesawat yang ditembak jatuh di sana. Ayah dan Ibu bilang, kami harus meninggalkan Afghanistan untuk hidup di tempat baru, Australia.

Aku tak mau pindah. Kalau aku dan Bibi bisa jadi pemain professional yang menang di Piala Dunia, kami pasti bisa membuat pemerintahan baru yang adik, baik, dan yang mengizinkan anak perempuan bermain sepak bola. Tapi akhirnya kami tetap pergi, lagi pula aku dengan Pemerintah Australia sangat baik dan perhatian. Di sana, kalau kau berulang tahun, Pemerintah Australia akan mendatangi rumahmu sambil membawa kue dan minuman bersoda.

Tapi sebenarnya Australia itu dimana sih?
ResenQi :
Dari awal cerita, penulis sudah mengatakan kalau dia tidak pernah tinggal di Afganistan dan hanya mengandalkan cerita perjalanan orang lain. Tapi, walaupun hanya rekaan, aku bisa merasakan bagaimana susahnya menjadi anak di sana, terutama bagi mereka para pecinta mereka, seperti Jamal dan adiknya, Bibi.

Karena ditujukan sebagai buku keluarga, cerita yang ada di sini tidak terlalu berat, ending dari setiap konflik juga selalu happy. Walau hampir setiap konflik pasti memacu adrenalin, seperti saat Jamal mengambil bola yang terhimpit di tank, Bibi yang terinjak ranjau, bahkan ketika Jamal dan Bibi terpisah dari orangtuanya. Bahasa yang digunakan juga khas anak-anak, gamlang dan mudah dimengerti.

Morris Gleitzman benar-benar mampu membuat membaca terbawa suasana saat membacanya, membayangkan perjuangan seorang kaka beradik berjuang untuk bisa mencapai Australia, hampir di setiap konflik aku selalu teringat dengan adik perempuanku. Karena dia sangat mirip Bibi, keras kepala tapi sangat kusayang. Juga ketika mereka berada jauh dari ayah dan ibu, aku jadi membayangkan bagaimana apabila aku ditinggal dengan adikku, hanya berdua.

Hal yang kusuka dari Jamal, kegigihannya dalam berjuang, pantang menyerah, walau beberapa kali dia down, tapi dia tetap bisa membuat adiknya, yang belum genap sepuluh tahun, agar tetap tenang di setiap konflik. Selain itu juga kesukaan pada Manchester United, karena aku suka Manchester United juga, hahaha xD. Dia juga mengganggap semua yang ada ‘united’ adalah pecinta bola, seperti PBB yang dalam bahasa inggris adalah United Nations. Bahkan, Jamal punya filosofi tersendiri tentang Manchester United,
“…Kita mungkin tidak berada di Manchester, tapi kita akan selalu united­-bersatu.”

Oh iya, kakek Yusuf, teman Jamal, memberikan penjelasan kepada Jamal arti overboard :
“Dalam bahasa Inggris, kata overboard juga berarti melakukan sesuatu yang berani, liar, berbahaya, dan menantang. Contohnya, kalau tikus padang pasir buang air kecil di kabel listrik senapan penembak pesawat, berharap senapan itu melepaskan tembakan dan menembak jatuh pesawat supaya dia bisa melihat apakah ada keju di kotak bekal pilot, itu berarti tindakannya overboard.”

Jadi, buat kalian yang punya adik, yang mau dibacakan cerita ini, atau kalian penasaran dengan ceritanya, ingin tau bagaimana Afganistan, ingin tau bagaimana perjuangan seorang anak berjuang dengan adiknya, apakah akhirnya Jamal sampai di Australia, silahkan baca buku ini!

Quote :
-          “ …ingat saja rahasia sepakbola. Jangan pernah menyerah walaupun kelihatannya tidak ada harapan.” – Jamal (Hal. 29)
-          “Kalau aku mati kuharap kau juga, karena kalau aku mati dank au tidak, aku akan sangat merindukanmu.” – Bibi (Hal. 32)
-          “Pemerintah tidak suka musik jadi mereka menyita kaset-kaset dari para pengendara motor dan melemparkannya ke atas sana sebagai peringatan. Itu sebabnya aku mengajar kalian bersiul, jadi kalian bisa menggangu pemerintah kapanpun kalian mau.” – Ayah Jamal (Hal. 69)


3 komentar:

  1. Duh ki, buku ini kategori family banget ya. Melihat kutipan sang ayah dalam menerjemahkan tembakan di udara, dan membuat warna dunia mereka terlihat baik-baik saja. Padahal kita semua tahu tidak demikian. Afganistan negara yang sedang bergolak.

    Kadangkala kita memang harus melihat dunia dari kacamata anak-anak. Tanpa pertikaian yang berujung maut. Atau kepuasan menyakiti orang lain. Lihat saja para bayi-bayi itu, bila salah satu temannya menangis yang lain akan ikut menangis. Sama-sama merasa sakit. :)

    BalasHapus
  2. Judul bukunya bikin penasaran, dan yang pastinya bercerita tentang anak laki2. penerbitnya juga terkenal. jadi bisa ketahuan nih buku pasti menarik pembaca.

    gue suka nih baca sinopsis tentang petualangan seorang anak laki2 dan adiknya perempuan. apalagi gue yg orangnya suka baca petualangan2 orang kayak gitu. berasa dapat pengalaman juga

    BalasHapus
  3. Reviewnya asik nih, ada kutipan-kutipan dari bukunya yang sempet bikin gue mangut-mangut. Hehe, tapi typonya itu loh...

    Penasaran sama bukunya, semoga bisa baca. Hehe

    BalasHapus

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *