Furniture Office Gaya Terkini yang Banyak Digunakan

Furniture Office – Kantor merupakan salah satu tempat yang digunakan bekerja untuk para karyawan. Kantor harus dibuat sebaik-baiknya dan membuat para pekerja di dalamnya merasa nyaman. Hal ini membuat desain pada sebuah kantor menjadi penting. Selain itu perlu juga memberikan furnitur yang menarik.

Bicara mengenai furnitur, sekarang ini bisa dikatakan sangat banyak jenisnya dan memiliki berbagai macam variasi yang bisa dipilih sesuai dengan selera. Gaya furniture office atau perabot kantor masa kini jika digunakan tidak kalah menariknya dengan furnitur-furnitur masa sebelumnya.

Gaya furniture office adalah menggunakan gaya desain yang simpel, bersih, fungsional, stylish. Selain itu perlu juga untuk selalu mengikuti perkembangan jaman. Hal ini berkaitan dengan gaya hidup orang-orang di zaman modern yang sedang berkembang pesat. Dalam mendesain konsep, perlu diperhatikan gaya modern yang selalu melihat nilai benda-benda (furniture) berdasarkan besar fungsi serta banyaknya fungsi benda tersebut. Kesesuaian benda tersebut juga harus diperhatikan berkaitan dengan gaya hidup yang menuntut serba cepat, mudah dan fungsional.

Dalam arsitektur, gaya hidup modern dewasa ini berimbas pada keinginan untuk mempunyai bangunan simpel, bersih dan juga fungsional. Ini merupakan simbol dari semangat modern. Akan tetapi, mengenai gaya hidup semacam ini tentunya hanya dimiliki oleh sebagian dari masyarakat saja terutama yaitu yang berada di kota besar. Hal ini dikarenakan kehidupan yang menuntut gaya hidup yang lebih cepat, fungsional dan efisien.

Gaya furniture office masa kini tentunya lebih menarik untuk diaplikasikan pada ruangan kantor. Gaya yang simpel akan menghadirkan ruangan yang terlihat lebih elegan dan tidak memakan banyak tempat, karena furnitur saat ini biasanya hadir dengan model yang minimalis. Model ruangan yang menggunakan furnitur terkini pastinya akan membuat karyawan bisa lebih nyaman dan menikmati proses kerja yang sedang dilakukannya.

Demikian informasi yang bisa diberikan terkait dengan furniture office terkini yang bisa ditemukan dengan mudah. Pastikan menggunakan perabot kantor terbaik untuk kantor yang dimiliki.
Baca lanjutannya →

PKN STAN Goes to Village - Hari Keempat


Sesuk mulih! Tidak terasa sudah tiga hari kami berada di Desa Talaga Sari, besok waktunya  pulang. Di hari keempat, aku menghabiskan waktu lebih banyak bersama teman-teman angkatan 2016 apalagi siang hari.

Sebelum ke siang, mari mulai hari dengan pagi. Mas Wing dan Dwi pagi ini membuat tulisan penanda KKN PKN STAN 2018 di tempat sampah menggunakan cat semprot. Setelah selesai sarapan dengan lontong sayur mamake (lagi), Cindy menulis penanda yang sama di tempat sabun menggunakan spidol. Sebenarnya tempat sabun ini berwujud asli talenan, akal cemerlang mas Ivan yang telah merubahnya menjadi tempat sabun.

Rencana hari ini adalah pergi ke BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) berupa peternakan lele. Entah kesalahan siapa, hal ini tidak terlaksana. Mas Ivan dan mas Wing pergi ke SD untuk memastikan apakah bisa didatangi besok pagi, ini untuk menghindari kegabutan. Aku dan yang lain memilih mengelilingi desa.

Sebelum berjalan jauh, kami mengisi tenaga dengan makan bakso. Awalnya ingin makan mie instan di tempat mamake karena kemarin tidak jadi makan itu, tapi karena ingin menjelajah lebih jauh, kami mencari tempat makan yang agak jauh. Nah, itulah yang membuat kami mendapatkan bakso. Karena dikelola oleh mas-mas, kami menjuluki beliau bapake. Ini agar mamake kami punya pasangan.

Setelah kenyang, perjalanan dilanjutkan. Salah satu tujuan kami mencari sawah. Kenapa? Saat menyusun rencana jalan-jalan, Dwi mengatakan temannya memberikan foto sawah. Kata warga sekitar, itu berada di Talaga Sari.

Setelah kami selesai berjalan, ada beberapa fakta yang didapat. Pertama, jalan yang dilewati adalah perbatasan. Jadi, desa Talaga dan Talaga Sari adalah desa yang dipisahkan jalan. Fakta selanjutnya, tidak ada sawah. Desa ini malah dikelilingi industri. Entah dimana foto sawah yang didapatkan teman Dwi. Nah, yang terakhir adalah sebuah fakta bahwa jalan yang kami lewati itu berputar. Tetiba saja kami sudah berada di tempat bapake. Sebagai penutup perjalanan, kami membeli es krim. Ketika sudah sampai di Posyandu, setelah menghabiskan es krim, kami memasang tempat sabun di kamar mandi.

Malam ini kami ditemani tempe mendoan. Coba tebak dari siapa. Yap, dari mamake. Selesai makan tempe mendoan, aku dan mas Wing pergi berburu durian. Setelah ketemu, harganya memang murah, hanya sepuluh ribu per buah, sayang sekali rasanya juga semurah harganya. Hambar. Tapi daripada tidak beli, dibelilah beberapa. Selesai berpesta durian (hambar), sebelum bersiap-siap ke SD besok, kami menutup hari dengan martabak manis dan telur.
Baca lanjutannya →

PKN STAN Goes to Village - Hari Ketiga Part 2

Hari ketiga belum selesai. Setelah dosen pembimbing pulang, kami bersiap mencari makan siang. Sempat tercetus mie instan, Hesty salah satu yang paling bersemangat. Setelah voting, mayoritas memilih gado-gado mamake. Hesty pun ngikut. Jadi, siang itu kami makan gado-gado mamake (lagi).

Sore harinya kami pergi ke minimarket membeli 'kenang-kenangan' untuk desa dan alat-alat tulis untuk dibagikan kepada anak SD. Rencananya, hari Jumat ke SD untuk sosialiasi tentang pajak dalam bentuk bermain sambil belajar.

Awalnya ingin membeli tempat sampah di pinggir jalan, karena tidak ada yang sesuai keinginan, perjalanan dilanjutkan ke minimarket. Di minimarket tidak ada yang dicari. Di sana mas Ivan beli es krim, Cindy beli minuman dan yang lain tidak beli apa-apa. Melihat mas Ivan dengan lahap memakan es krim di tengah hujan deras di depan minimarket, aku tergoda melakukan hal yang sama. Akhirnya, aku beli es krim (juga).

Tidak ingin pulang dengan tangan kosong, kecuali aku dan mas Ivan yang sudah belepotan es krim, kami memutuskan ke Pasar Cikupa mencari alat tulis dan 'kenang-kenangan'. Sampai di pasar, hanya ada toko baju. Aku teringat Sudimampir, pasar di Banjarmasin yang mirip Tanah Abang.

Belum menyerah dengan keadaan, setelah mencari dan bertanya, dapatlah sebuah toko yang menjual berbagai macam hal semacam toko swalayan. Kalau di Bintaro mirip Harmoni, Ahad Mart, atau Hari-Hari. Namanya adalah Toko Yan. Ya, Toko Yan. Y-A-N. Alhamdulillah di sini didapatkan semua yang diinginkan.

Saat kembali ke Posyandu, kami membungkus hadiah yang akan dibagikan. Setelah selesai, kami memainkan werewolf. Kemarin bermain ludo yang memecah persahabatan, hari ini bermain werewolf yang membuat rasa tidak percaya antar teman semakin besar.

Puas bermain werewolf, malam ditutup dengan makan buah duku. Duku diberikan warga yang sering nongkrong tiap malam di depan kantor desa. Aku tidak ingat apakah kami makan malam atau tidak hari ini. Aku hanya ingat ada pedagang nasi goreng keliling yang dipesan salah satu aparat desa, tapi kami tidak pesan nasi goreng itu.
Baca lanjutannya →

PKN STAN Goes to Village - Hari Ketiga Part 1

Cerita hari kedua berakhir setelah kami menghikhlaskan permainan ludo berakhir tanpa pemenang kemudian ditutup dengan makan malam. Sebenarnya aku masih penasaran dan ingin melanjutkan permainan, tapi karena sudah terlalu malam akhirnya setelah makan langsung tidur. Seperti biasa para cewek diantar ke rumah ketua RT dan cowok persiapan tidur. Berkaca dari malam sebelumnya, aku baru mengoleskan krim anti nyamuk ketika benar-benar ingin tidur dan yakin sudah sholat isya.

21 Februari 2018, terjadi hal yang aneh dengan perutku. Sebenarnya sudah sejak kemarin tidak nyaman. Kemungkinan kaget dengan makan gado-gado tidak pedas ternyata masih ada cabainya satu. Apalagi malamnya ditambah kangkung level sedang yang pastinya cabainya lebih banyak.

Cowok yang lain masih tidur, aku sudah bangun dan bergegas ke kamar mandi. Pintu tertutup dan lampu menyala. Ah sial, ada orang! Aku kembali ke Posyandu dan menunggu. Saat di markas aku menghitung kembali personel cowok Seventeen Group. Masih lengkap. Apakah ada anggota kedelapan? Hm, mungkin bapak penjaga kantor desa.

Sepertinya tidak sampai satu menit aku menunggu, tapi karena sudah tidak tahan lagi aku kembali ke kamar mandi. Kondisinya masih sama. Saat kuintip, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena sudah tidak tahan, kubuka pintu perlahan. Ternyata, hanya ada seekor kucing dan kotoran bertebaran di sekitar. Aku tidak peduli dan langsung menuntaskan rasa sakit. Entah karena sadar aku sudah tidak tahan atau memang sudah selesai dengan urusannya, kucing tersebut langsung keluar ketika pintu terbuka.

Sampai tulisan ini ditulis, sepertinya hanya aku yang tau tragedi kucing kala itu. Karena memang baru aku yang bangun. Sambil menyelesaikan urusan dengan perut, aku bersihkan kotoran kucingnya. Sehingga ketika keluar, semua sudah bersih. Cukuplah tulisan tentang kamar mandi. Aku takut menggangu nafsu makan kalian.

Berlanjut ke sarapan. Ketika mengantar makan malam, mamake menawarkan sarapan, tapi mas Ivan tidak memberikan jawaban pasti. Mungkin itu penyebab mamake datang lagi pagi ini dan menanyakan hal yang sama. Bubur terpilih untuk menjadi menu sarapan.
Setelah dua kali berturut-turut menawari makanan, mamake tiap pagi dan sore selalu melakukan hal itu. Kenapa siang tidak? Karena beliau jualan gado-gado di siang hari. Salah satu yang menarik kali ini, sejak sering merasakan delivery mamake, aku terbiasa dengan teh tawar. Hm... sepertinya akan lebih hemat kalau nanti di Bintaro hanya minum teh tawar. Alternatif pilihan selain air putih.


Agenda hari ini seharusnya bertemu dengan Bendahara Desa melanjutkan pembahasan tentang pengelolaan keuangan desa. Tapi sayangnya bendahara berhalangan. Agar tidak gabut, kami memilih bergabung dengan pengajian ibu-ibu di aula desa. Karena khusus ibu-ibu, kami hanya bisa hadir sebentar untuk memperkenalkan diri dan menawarkan bantuan tentang pengelolaan keuangan.

Selesai dengan pengajian, kami didatangi oleh dosen pembimbing. Beliau mengecek keadaan kami, memberikan beberapa petuah, dan meninggalkan dua bungkus cemilan. Terima kasih bapak.
Baca lanjutannya →

PKN STAN Goes to Village - Hari Kedua

PKN STAN Goes To Village hari pertama ditutup dengan makan bersama setelah menunggu satu setengah jam. Setelah selesai makan, Cindy dan Hesti diantar ke rumah ketua RT sedangkan para cowok persiapan tidur.

Sebelum tidur, karena mendengar suara ngiung ngiung, aku mengoleskan krim anti nyamuk agar bisa tidur nyenyak. Saat ingin memejamkan mata, aku teringat belum sholat Isya. Aku pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Ketika sedang berwudhu, tanganku terasa licin. Aku baru sadar bahwa tadi baru saja mengoleskan krim. Jadi, krimnya luntur karena berwudhu.

Pukul tiga pagi suara ngiung ngiung kembali mengusik. Aku terbangun dengan gatal-gatal. Di saat nyawa belum terkumpul sepenuhnya, kucoba merangkai memori. Kejadian wudhu pun terlintas di pikiran. Akhirnya aku mengoleskan krim lagi agar gangguan ngiung ngiung berhenti. Alhamdulillah sampai pagi bisa tidur nyenyak.

Pukul 05.30 WIB di tanggal 20 Februari 2018 aku menciptakan sebuah prestasi, menjadi cowok pertama di Seventeen Group yang mandi. Hari-hari selanjutnya pun tetap menjadi yang pertama, kecuali di hari terakhir kalau tidak salah. Entah kenapa malas mandi di hari terakhir.
Kalau tidak salah di hari kedua ini sarapannya nasi uduk. Mulai pukul 9.30 WIB, kami melakukan wawancara dengan Kasi Pemerintahan Talaga Sari tentang pengelolaan keuangan desa. Beliau di sini juga merangkap sebagai operator Siskeudes (Sistem Keuangan Desa) sehingga semua hal tentang pengelolaan keuangan desa bisa beliau jawab. Bahkan masalah perpajakan Bendahara Desa bisa tuntas terjawab. Sesi wawancara selesai sekitar pukul 11.30 WIB dan beliau menghabiskan lima batang rokok selama sesi.

Kemarin makan siang di rumah makan padang, hari ini makan di rumah Mamake. Siapa Mamake? Mamake adalah julukan bagi ibu penjual gado-gado yang letak warungnya tepat di depan kantor desa. Kenapa disebut Mamake? Karena di depan warung beliau bertuliskan 'Gado-Gado Mamake'.
Ada dua hal penting yang terjadi di warung gado-gado ini. Pertama, kalau memesan gado-gado dengan level tidak pedas di sini, maka itu artinya memakai satu cabai. Kedua, Seventeen Group mendeklarasikan akan mendokumentasikan setiap kegiatan makan alias 'foto dulu sebelum makan'.

Selain dua hal di atas, ternyata ada satu lagi yang terjadi. Pada saat malam hari, entah mendapatkan panggilan dari siapa, mamake tetiba muncul di depan pintu Posyandu, "Udah pada makan malam?" begitu tanya beliau.

Sempat kaget dengan kedatangan (tak diundang) beliau, kami berhasil menguasai akal sehat dan setelah perdebatan karena semua mengatakan, "Terserah," akhirnya terpilihlah sayur kangkung dengan tingkat kepedasan sedang dan lauk berupa telur dadar. Dwi yang mengusulkan hal ini.

Sambil menunggu masakan, kami memutuskan untuk bermain Ludo di smartphone Dwi. Karena hanya bisa dimainkan oleh enam orang, mas Ivan mengalah untuk tidak ikut bermain.

Mengenai Ludo, banyak yang bilang permainan ini bisa menjadi pemecah persabahatan (tentu makna sebenarnya adalah kebalikannya). Pada permainan kami, hal itu terbukti. Persahabatan yang baru mulai dipupuk sejak kemarin, runtuh seketika. Bagi yang ingin mencoba menghancurkan persahabatan apalagi bagi yang baru kenal, ludo bisa jadi salah satu pilihan.

Perlu waktu yang tidak sebentar untuk menyelesaikan ludo, apalagi dengan enam orang pemain. Bahkan ketika masakan mamake datang, kami masih fokus dengan ludo dan mengabaikan bau sedap kangkung dan telur dadar.
Baca lanjutannya →
IBX59EADF1D9DDBB

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Ikuti lewat Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *