Duapuluhdua

Duapuluhdua, dua yang bertemu dua kali

Jarak dengan tembok sudah cukup jauh, dari belakang masih kelihatan tapi aku tidak peduli lagi.

Waktu itu aku gagal karena tembok di depan kokoh berdiri. Sekarang, aku berada di depan jalan, tidak ada tembok, tinggal menyeberang. Jalan bukan berarti tidak ada yang menghalangi, dia ada di seberang, namun jalan ini tidak semudah jalan tempat biasa berjalan.

Kemarin gagal karena tembok tidak bisa dinaiki, sekarang hanya jalan yang diseberangi. Ya, aku yakin kali ini.

Layaknya 11.11, 22.22 itu waktu mujarab

Halangan di depan ternyata tidak semudah kerikil di pinggiran jalan, sudah beberapa kali kucoba singkirkan, dia tetap kokoh, persis seperti tembok, angkuh.

Yang di seberang pun bergeming, dia bisa melihatku di sini, aku sudah mengatakan ingin ke seberang berkali-kali. Sampai saat ini, dia masih (hanya) menatapku.

Jujur, lebih dari sekali jalan ini ditutup. Aku tidak berjalan di jalan bebas hambatan, tapi jalan dengan halangan dan sistem buka tutup (yang fase buka bukan buka yang memang terbuka).

Tapi, untuk kedua kalinya, layaknya dua yang kedua di duapuluhdua, aku percaya ini takdir. Takdir yang lebih waras daripada mewaraskan tembok yang kupaksa disamakan dengan takdir.

Ya, sudah kugenggam takdir yang kutinggalkan di depan tembok.
Baca lanjutannya →

Running Man Ala-Ala

Aku sudah sempat cerita tentang perjalanan magang terakhir sebelum resmi jadi Mabeng #19 Medcent PKN STAN. Silahkan baca dulu cerita sebelumnya kalau merasa bingung dengan istilah di cerita kali ini:

TMII itu Taman Mini, Pak

Setelah supir tau di mana TMII berada, akhirnya kami menuju arah yang benar dan sampailah di gerbang TMII alias Taman Mini.

“Pak, nanti bayar tiket masuk gak?” tanya temanku ketika kami di depan gerbang.

“Gak kok, tenang aja,” ucap supir enteng.

Ketika sampai di depan dan bertemu dengan petugas, “Selamat pagi, Pak. Ada berapa orang di dalam?” sapanya sambil melihat ke dalam mobil.

“Mas, ini saya taksi online,”

“Sama saja, Pak. Semuanya, termasuk taksi online, wajib membayar tiket masuk,”

“Tapi kan…,”

“Sesuai peraturan, Bapak juga harus membayar tiket,” ujar petugas. Dia melanjutkan, “ada enam orang, jadi enampuluh ribu rupiah.”

Kami sempat bertatapan lagi baru patungan dan memberikan uang kepada petugas loket. Setelah melewati gerbang, kami turun di depannya karena memang tempat pertemuan di situ. Awalnya kami ingin turun di luar gerbang agar tidak perlu mentraktir supir tiket masuk tapi perkataan sok tau supir membuat kami merogok kocek lebih banyak.

Ternyata kami lebih dulu sampai daripada Mabeng yang menemani kami dari Bintaro. Jadi kami menunggu. Setelah mereka sampai kami langsung menuju tempat pertemuan. Sempat berdebat mau jalan kaki atau naik angkutan sebelum keputusan jalan kaki diambil.

Saat sampai, kami disambut dengan Mabeng yang duduk di karpet merah dengan berbagai makanan ringan dan minuman, sudah seperti piknik. Agenda pertama adalah foto untuk Kartu Pers Medcent. Muka kucel setelah berdesakan di KRL dan berputar-putar bersama supir yang tidak tau TMII karena hanya tau Taman Mini, sekarang disuruh untuk foto. Aku jadi ingat ketika harus foto untuk KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) di PKN STAN setelah berangkat sebelum subuh ke Bintaro dari Bogor, menunggu mengambil nomor antrian sampai subuh dan baru dipanggil pukul delapan pagi.

Setelah foto, kami makan siang bersama dan sholat berjamaah di masjid yang ada di dalam area TMII. Selesai sholat dan makan, permainan dimulai.

Bagi yang pernah menonton acara Running Man, permainan kali ini mirip dengan acara tersebut. Jadi, kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompokku namanya “D’Academy”. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 orang dan tiap orang diberikan kertas kemudian ditempel di lengan. Ada 3 pos yang harus kami lewati. Selain melewati pos, selama perjalanan menuju pos kami diperbolehkan merobek kertas di lengan lawan, apabila berhasil merobek maka mendapatkan poin bagi yang merobek dan kehilangan poin bagi yang tersobek.

Di pos pertama kami disuruh melepaskan tali yang diikat di lengan. Selesai melepaskan tali, sebelum lanjut ke pos selanjutnya, untuk membuktikan misi telah terselesaikan, kami harus berfoto bersama penjaga pos tersebut.

Tidak ada petunjuk sama sekali untuk pos selanjutnya, jadi setelah selesai dengan pos pertama kami langsung lari menuju pos selanjutnya. Sambil menjaga kertas di lengan, kami mencari di mana terlihat ada Mabeng.

Alhamdulillah kami menemukan pos selanjutnya, sayangnya sudah ada kelompok yang menemukan terlebih dahulu. Sambil menunggu kelompok lain menyelesaikan misi, kami mencari pos lain. Walaupun tidak diberikan petunjuk, kami diperbolehkan bertanya di mana pos selanjutnya dengan Mabeng lain. Setelah bertanya dengan Mabeng lain, pos selanjutnya ditemukan.

Karena semua kelompok fokus di pos sebelumnya, di pos ini kami menjadi yang pertama datang. Tantangan di pos ini adalah membuat puisi berdasarkan lagu yang dipilih secara acak. Selesai membuat puisi, kami diminta untuk membacakan puisi tersebut.

Selesai dengan pos membaca puisi, kami kembali ke pos sebelumnya. Walau kami menjadi yang pertama di pos membaca puisi, di pos ini kami menjadi yang terakhir. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Tantangan di pos ini ada dua, yang pertama adalah menirukan salah satu adegan sesuai nama kelompok, jadi kami harus menirukan adegan di D’Academy. Karena kami tidak ada yang pernah menonton, jadi adegan pun dibuat seadanya dan sangat tidak berfaedah. Tantangan selanjutnya adalah mengajak salah satu pengunjung TMII untuk menyebutkan jargon Media Center, yaitu “Mencerdaskan dan Mencerahkan”.

Selesai di pos tersebut, kami kembali ke pos pertama, tempat berkumpul apabila telah menyelesaikan semua pos. Di tengah perjalanan, pertempuran dimulai. Kami saling merobek di tengah perjalanan. Karena kertas di lenganku bertuliskan nama kelompok dan punya nilai lebih tinggi apabila dirobek, aku harus berjuang lebih keras agar tidak dirobek.

Ketika sampai di pos, dari tiga anggota kelompok, hanya aku yang mampu mempertahankan kertas (dan tidak merobek kertas). Awalnya aku pikir masih ada satu pos lagi sehingga kami membuang waktu mencari pos yang sebenarnya tidak ada dan kesalahan persepsi karena mengira kami akan bertempur di pos awal. Nyatanya ketika sudah sampai di pos tidak boleh ada pertempuran seperti pos-pos lain.

Saat semua kelompok kembali ke pos awal, kami diresmikan menjadi Mabeng #19. Akhirnya setelah melalui berbagai proses magang, aku dan teman-teman resmi menyandang gelar Mabeng #19.

Kelompok Goblin terpilih menjadi kelompok terbaik di permainan Running Man ala-ala kali ini. Untuk kelompok Magang terbaik adalah kelompok tiga yang merupakan kelompokku, Alhamdulillah. Sebagai kelompok terbaik kami mendapatkan hadiah, silahkan cek di sini untuk yang penasaran isi dari hadiah tersebut :



Terima kasih untuk hari minggu yang sangat menyenangkan kepada kelompok D’Academy, Goblin, Ikan Tongkol, Kulit Manggis, Mabeng #18 dan #17, Bapak Supir, dan semua yang terlibat dalam acara ini yang tidak bisa kusebutkan satu per satu. Sebelum pulang, kami sholat ashar berjamaah kemudian berfoto bersama di depan Tugu Api. Kami pulang menggunakan taksi online tanpa lewat KRL karena sudah sangat lelah apalagi aku harus membawa hadiah. Untungnya supir kali ini tau jalan pulang dan kami sampai di PKN STAN dengan selamat tanpa harus keliling-keliling.
Baca lanjutannya →

Bayar dan Rapikan

Parma, itulah biasanya mahasiswa PKN STAN menyebut kantin. Sebenarnya Parma adalah singkatan dari Parkiran Mahasiswa, tapi karena memang kantin terletak di sebelahnya sehingga jadilah sebutan Parma untuk kantin.

Jujur, walaupun terdapat bermacam makanan, kantin di PKN STAN masih jauh dari kata layak. Tempat yang terlalu sempit sehingga tiap jam makan siang selalu kelebihan kapasitas, akhirnya banyak mahasiswa yang tidak jadi makan di Parma karena tidak dapat tempat duduk.

Masalah lainnya adalah kebersihan. Banyaknya ayam kampus, juga kucing kampus sering menjadi pengganggu kekhusyukan ketika menyantap makanan. Ditambah dengan sampah bekas makanan yang ditinggalkan begitu saja.

Sebenarnya, budaya setelah makan di tempat makan lah yang membuat kebersihan Parma bermasalah. Coba diingat lagi, ada berapa orang yang meninggalkan meja dengan keadaan bersih setelah makan di restoran cepat saji ataupun warteg?

Kan ada petugas yang membersihkan, kalau kita membersihkan diri, mereka digaji buat apa?

Pola pikir macam itu dibawa terus tiap kita makan, di manapun itu, termasuk ketika makan di Parma. Padahal, kita datang ke tempat makan dalam keadaan bersih, seharusnya kita meninggalkannya dengan keadaan bersih kan?

Apa susahnya membereskan peralatan makan sesudah selesai makan, toh ketika di kos kita juga membersihkan peralatan makan sendiri. Ketika makan di luar, kita cuma harus merapikan, tidak sampai mencuci piring, kok. Juga, tisu di tempat makan bukan hanya untuk membersihkan tangan dan mulut, butiran nasi atau bekas apapun yang tercecer di meja makan sebenarnya tanggung jawab kita.

Banyak tempat sampah bertebaran di sekitaran Parma, botol minum dan wadah makan sekali pakai bisa langsung kita buat di situ. Untuk piring dan gelas, kalau memang penjual menolak ketika kita bawa langsung ke tempat mereka, rapikan saja di satu tempat. Mungkin masih kelihatan kotor, tapi paling tidak lebih bersih daripada ketika kita tinggalkan begitu saja.

Jadi, selesai makan, dua yang harus kita lakukan. Bayar dan rapikan. Tata tempat makan yang kotor di satu tempat, buang sampah wadah sekali pakai, bersihkan meja dari sisa makanan.

*Postingan ini terinspirasi dari :

Baca lanjutannya →

Pentakel 2017

Teater Alir PKN STAN
Pentakel, pentas kenal alir, adalah agenda tahunan dari Teater Alir PKN STAN. Pentas ini diselenggarakan oleh anggota baru Alir dan tahun ini kembali dipentaskan Pentakel 2017. Pentas kali ini diadakan pada hari Sabtu, 8 April 2017 di Student Center (SC) PKN STAN. Karena ini tahun pertamaku di PKN STAN, pemeran yang ada di Pentakel kali ini juga beberapa kukenal bahkan ada yang berasal dari kelasku.

Pentakel 2017 menampilkan tiga naskah, Ayahku Pulang, Orang Asing, dan Pispot. Di pergantian naskah diselingi pembacaan puisi Jante Arkidam karya Ajip Rosidi dan Aku karya Chairil Anwar.

Naskah pertama, Ayahku Pulang, berkisah tentang keluarga yang ditinggalkan sang ayah sejak lama. Ibu dan anak-anaknya harus bahu-membahu banting tulang demi kebutuhan keluarga. Ibu dengan sabar menunggu pasangannya datang walau nyatanya lebih sering bersedih karena ditinggal. Anak tertua, Sunarti, tidak lagi peduli dengan ayahnya. kebencian karena ditinggal ditambah masa kecil yang kelam membuatnya menganggap ayah sudah mati 20 tahun lalu, ketika dia pergi meninggalkan keluarga ini. Ketika ayah mereka kembali dengan mengiba, Sunarti melakukan sesuatu yang di akhir dia sesali. Bagiku, Ayahku Pulang ini ingin menunjukkan kegelisahan seorang yang ditinggal begitu lama oleh orang yang di lubuk hatinya terselip sedikit cinta tapi tertutup karena pukulan dan tendangan. Saat orang itu kembali, demi mengeluarkan kembali cintanya, dia harus meluapkan semua pukulan dan tendangan yang diterimanya.

Naskah kedua adalah Orang Asing. Naskah ini menceritakan seseorang – sebut saja orang asing – yang menawarkan ‘harapan’ dan ‘masa depan’ kepada seorang lurah. Karena tergoda dengan tawaran menggiurkan, lurah pun mengiyakan aset, anak-anak di kelurahan itu, digadaikan. Didukung oleh guru dan para orangtua murid, modin yang nyatanya benar tidak bisa menyelamatkan aset karena hanya sendirian. Bahkan kesuciannya pun akhirnya ternodai. Bukan karena dirinya salah, tapi karena tidak yang mempercayai kebenarannya. Keserakahan penguasa membuatnya rela menjual apa saja yang di bawah wewenangnya. Harta berkilau di depan mata pun membuatnya buta dengan kesucian. Dan rakyat jelata yang tak tau apa-apa mengiyakan saja apa titahnya. Bagiku, itu yang ada di naskah Orang Asing.

Naskah pertama seriusnya sangat kerasa, kesedihan dan kekesalan berhasil mengaduk emosi. Di naskah kedua suasana mulai agak cair, di tengah kritik diselipkan komedi yang bikin tidak bosan. Naskah ketiga, Pispot, (diharapkan) menjadi puncak dari komedi. Dengan masalah sederhana, seorang pemuda yang mencuri kalung ibu di pasar tapi ketika dilakukan pembuktian, dia bisa mengelak dan tidak terbukti bersalah. Sempat bingung di awal sampai tengah, untungnya tengah ke akhir berhasil membawa tawa menguar lagi di SC. Kalau memang Pispot dimaksudkan untuk komedi, bagiku Orang Asing lebih lucu.

Tiga naskah yang mampu dibawakan secara luar biasa oleh teman-teman Alir 2017. Bangga rasanya punya teman-teman yang mampu memberikan penampilan yang luar biasa. Ketika selesai pentas juga terlihat sekali bagaimana rasa kekeluargaan yang begitu lekat bukan hanya sesame pementas tapi juga senior Setidaknya itu dari sudut pandang orang awam yang tidak berada di dalam keluarga itu. Sukses terus untuk Teater Alir PKN STAN. Ditunggu mahakarya lainnya.
Baca lanjutannya →

Tujuhbelas

Tujuhbelas, banyak yang berbahagia di angka ini

Tembok masih kokoh, dan aku pergi. Pondasinya sudah kutinggalkan.

Entah sudah seberapa jauh jarak dengan tembok, hingga saat ini masih terlihat kokoh dan (tetap) angkuh.

Tapi ingat, ketika sampai tujuhbelas, hitungan mundur terus berjalan

Ada yang hidup dengan rencana, ada yang tak mengenal rencana, dan masih hidup. Ada yang menjadikan kebetulan sebagai rencana. Dan aku, tidak mendewakan rencana atau mengibliskan kebetulan.

Kali ini, aku berpapasan dengan kebetulan, tidak ada rencana. Satu-satunya rencana yang menemani sejauh ini hanya pergi menjauhi tembok.

Aku berpapasan, awalnya murni berpapasan, aku masih belum percaya dengan takdir, ia tertinggal di depan tembok dan tidak ada rencana untuk mengambilnya.

Ya, aku hanya berpapasan.
Baca lanjutannya →

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *