Danur, Film Indonesia yang Beneran Horor

Danur, Film Indonesia yang Beneran Horor
Horor bukan salah satu genre film favoritku, apalagi film horor Indonesia yang terkenal dengan adegan 'nganu'nya. Tapi film kali ini berbeda, dilihat dari trailer dan alur serta para pemain, aku menduga tidak akan ada 'nganu'. Dan setelah menonton, aku puas dengan film horor Indonesia kali ini.

Bercerita tentang Risa Saraswati (Prilly Lacutonsina) yang pada masa kecilnya mempunyai lima 'teman' ketika tinggal di rumah neneknya. Ketika remaja, Risa kembali ke rumah tersebut untuk merawat neneknya yang sakit, kali ini dia bersama dengan adiknya, Riri (Sandrinna Michelle). Masalah timbul ketika Riri bertemu dengan Asih (Shareefa Daanish) yang ternyata berakhir dengan hilangnya Riri. Untuk menemukan adiknya, Risa meminta bantuan kelima teman lamanya.

Tidak ada adegan yang tidak 'mengenakkan' sepanjang film, bahkan para pemainnya pun 'aman'. Danur merupakan film horor Indonesia yang memang horor, yang dicari adalah teriakan histeris dan ketakutan, bukan sekadar mata-mata jelalatan.

Karena bukan seorang pecinta horor, menurutku sebagai orang awan tentang horor, Danur cukup mengagetkan. Entah kenapa Prilly sejak awal kemunculan terlihat pucat sekali, apakah ini efek adanya Peter di lokasi syuting?

Tapi, efek kemunculan hantunya menurutku agak mirip The Rings. Efek ketika hantu 'menyerang' pun begitu. Entah memang setiap hantu caranya begitu atau gimana, soalnya aku baru nonton dua film horor tahun ini dan jarang sekali sebelumnya nonton horor.

Keseluruhan, film ini wajib ditonton terutama pecinta film horor dan film nasional yang rindu horor yang benar-benar horor di film nasional. Walaupun tidak ada yang istimewa di alurnya, film ini tetap mengagetkan.

Jadi, jangan lupa mulai hari ini, 30 Maret 2017, nonton Danur di bioskop kesayangan kalian. Siap-siap berpetualangan bersama Risa dan Peter cs :D
Baca lanjutannya →

Tigabelas

Tigabelas, banyak yang mengatakan ini angka sial

Tidak terhitung banyaknya tangga yang kubuat untuk ke atas. Tapi, pondasi yang besoknya rusak dengan rapi di tempat aku memulai lebih banyak lagi.

Kenapa?

Tiap kali kukirim pertanyaan tentang hal itu, angin selalu menantang. Pertanyaan itu tidak pernah lewat. Sekadar membelai pun tidak. Tembok tetap saja kokoh, angkuh.

Bagiku, kesialan hanya milik orang-orang yang tidak mengenal kata ‘kurang beruntung’

Hari itu, angin kembali menentangku, tepat ketika tangga hampir setengah jadi. Aku ambruk, kali ini tangga rusak dengan wajar, tidak rapi seperti ribuan kali percobaan sebelumnya.

Angin tidak hanya merusak, dia membawa kabar, tepatnya mengusir.

Jawaban dari pertanyaan yang selalu ditentang angin tepat mendarat di mukaku, ternyata itu yang menghalangi pondasi runtuh mengenai muka.

Sejak itu, aku berhenti membuat tangga. Sesekali tetap kupandang tembok besar di depan, beberapa kali tangan bergerak menggapai pondasi namun kaki selalu berontak tiap kali pikiran merengek membuat tangga (lagi).
Baca lanjutannya →

Perfect Dream : Harta, Tahta, Wanita

Harta, tahta, wanita, itu tiga hal yang sering disebut sebagai penjatuh pria. Dalam film besutan Hestu Saputra berjudul Perfect Dream, Dibyo (Ferry Salim) sebagai The Dreamer mengincar mimpi yang sempurna yang berhubungan dengan ketiga hal tersebut dan menjadi kejatuhannya sendiri.

Film ini berlatar kehidupan mafia di Surabaya, ketika melihat trailernya aku membayangkan akan seperti Jakarta Undercover versi Moammar Emka yang baru rilis beberapa waktu lalu tapi ternyata Perfect Dream lebih fokus kepada kehidupan keluarga seorang mafia. Sebelumnya maaf kalau keceplosan beberapa spoiler di sini.

Di awal film menurutku terlalu cepat, untungnya ketika latar waktu berpindah 25 tahun setelahnya, alurnya mulai bisa diikuti. Di awal sebenarnya bisa dikurangi beberapa adegan agar tidak secepat itu, sempat ngos-ngosan dan kebingungan soalnya.

Ekspektasi ketika tau ini film tentang mafia, yang ada di bayanganku adalah penuh adegan perkelahian menegangkan. Tapi Perfect Dream sepertinya lebih fokus ke drama keluarga seperti yang kusebutkan di awal sehingga adegan action yang ada rasanya kurang 'greget'.

Untuk masalah keluarga, porsinya sebenarnya agak nanggung juga. Apalagi setelah Dibyo mendapatkan harta dan tahta, termasuk istri yang setia, Lisa (Wulan Guritno) juga anak-anak manis, Bagus (Baim Wong) dan Anna (Tissa Biani), datang sesosok wanita, Rina (Olga Lydia). Ketika wanita ini masuk di kehidupan keluarga Dibyo, keindahan keluarga yang sudah dibangun 25 tahun pun pudar. Sayangnya, konflik tidak terasa begitu mengena karena terdistraksi dengan adegan action.

Masih bingung kenapa Rachel (Poppy Solvia) berinteraksi dengan Bagus, karena Rachel hanya muncul di situ dan sampai akhir tidak keliatan kelanjutannya. Untuk bagian Annisa (Rara Nawangsih) mungkin bertujuan untuk menunjukkan toleransi beragama dan menjelaskan bagaimana nasib lelaki yang berhubungan dengan Lisa sebelum Dibyo.

Secara keseluruhan film ini patut ditonton bagi yang penasaran dengan kehidupan mafia di Surabaya. Melalui film ini kita jadi tau kalau mafia tidak hanya ada di Jakarta, tapi kota besar lain, seperti Surabaya. Di film ini juga diceritakan bagaimana keluarga seorang mafia yang ternyata tidak jauh beda dengan keluarga pada umumnya dan sosialita yang kerjaannya tidak hanya menghambur-hamburkan uang.

Perfect Dream juga menyelipkan beberapa pesan moral. Contohnya tentang persahabatan ketika salah satu anak buah Dibyo terbunuh, rekannya langsung marah dan ingin menghabisi Hartono (H. Qomar) atas dasar persahabatan. Ada juga pengingat untuk berdoa sebelum makan ketika Anna memimpin doa makan.

Jadi, jangan lupa buat nonton Perfect Dream di bioskop kesayangan kalian mulai tanggal 30 Maret 2017. Rasakan sensasi perebutan kekuasaan mafia di Surabaya dan konflik keluarga seorang mafia.
Baca lanjutannya →

Bernostalgia di Beauty and The Beast

Sebagai salah satu kisah "putri-putrian", Beauty and The Beast pasti sudah tidak asing lagi bagi kita, jalan ceritanya pun begitu.

Tahun ini Disney merilis versi live action dari film yang animasinya rilis tahun 1991. Walaupun aku laki-laki (tulen), efek mempunyai adik perempuan membuatku (awalnya) terpaksa menonton film animasi putri-putrian, termasuk Beauty and The Beast. Semakin ke sini, karena memang animasi adalah salah satu genre film kesukaanku, apapun kisahnya, putri-putrian sekalipun, tetap menarik menurutku.

Di versi live action ini tidak banyak berbeda dengan aslinya. Diawali dengan peristiwa yang membuat Pangeran (Dan Stevens) dikutuk menjadi Beast, Belle (Emma Watson) yang diceritakan sebagai gadis desa yang gemar membaca, sampai pada akhirnya kutukan Pangeran yang berhubungan dengan bunga mawar berhasil dipatahkan. Hanya ada beberapa bagian yang berbeda seperti ketika Beast membawa Belle ke tempat masa kecilnya dan menjelaskan kematian sang ibu dan sedikit isu gay yang diangkat melalui adegan antara LeFou (Josh Gad) dan Gaston (Luke Evans). Tapi tenang saja, adegan hanya sebatas gesture LeFou, tidak lebih dari itu.

Walaupun secara umum tidak ada perbedaan, film ini bisa menjadi ajang nostalgia. Dengan berbagai kesamaan yang ada membuat setiap adegan di film membawa kita kembali ke masa kecil.

Jadi, bagi yang ingin mengenang ketika masih bermimpi menjadi seorang Belle atau ingin bernostalgia dengan lagu di film tersebut, Beauty and The Beast wajib ditonton. Mungkin ada yang mau melihat Hermione Granger dalam wujud putri, bernyanyi, dan menari atau apapun alasan kalian ingin menonton, seperti yang tadi kubilang, Beauty and The Beast wajib ditonton.
Baca lanjutannya →

Durian 911 : Setiap Hari Musim Durian


Durian adalah buah yang berbau menyengat tapi punya rasa yang sangat enak, tentunya ini bagi para penyuka durian sepertiku. Sayangnya beberapa orang tidak tahan dengan bau durian sehingga menghindari buah yang satu ini.

Bagi para pecinta durian, salah satu kendala dalam menikmati durian adalah musim. Tidak setiap saat musim durian sedangkan saat 'ngidam' durian tidak bisa diduga. Nah, bagi teman-teman pecinta durian terutama daerah Bintaro, Tangerang Selatan, ada tempat yang menjadikan setiap hari selalu musim durian.

Tempatnya bernama 'Durian 911'. Resto dengan berbagai olahan durian ini baru buka beberapa bulan yang lalu. Setelah sekian lama mengidam akhirnya aku berkesempatan masuk dan memuaskan hasrat menyantap durian di sini.

Durian 911 menyediakan berbagai olahan durian mulai dari 100% durian sampai dengan 0% durian (non-durian). Mulai dari durian kupas sampai aneka makanan minuman dari durian ada di sini.

Tempat yang disediakan lumayan lega. Ada 2 lantai, jadi kalau ingin bersantai sambil menikmati indahnya kota apalagi di malam hari, bisa memilih lantai 2. Tapi kalau mau sekadar bersantai, lantai 1 juga bisa menjadi pilihan.

Kali ini karena sekalian makan malam jadi yang dipesan adalah 75% durian dalam bentuk Iced Durian dan Nasi Goreng.
  • Iced Durian Blackjack (Rp. 27.000)
Photo By : Rafika Dian
Sebenarnya ingin memesan Kopi Durian, tapi Iced Durian Blackjack lebih menggoda. Dari deskripsi di menu, di bagian atas ada beng-beng berbalut dark coklat dan selai kacang ditambah coklat flavour. Di bagian tengah ada durian dan di bawahnya coffee flavour dan ketan hitam.

Soal rasa, penuh dengan durian. Entah kenapa menurutku rasa duriannya begitu kuat, bahkan coklatnya menjadi hambar di sini, tenggelam oleh rasa durian. Sempat menyesal tidak mencoba Kopi Durian karena rasa kopinya tidak ada sama sekali di sini. Tapi untungnya ada 'serbuk-serbuk ajaib' yang menyelamatkan Iced Durian ini dari sekadar rasa durian.
  • Iced Durian Battle Melody (Rp. 27.000)
Photo By : Rafika Dian
Kalau yang ini pesanan temanku. Iced Durian Battle Melody ini ditaburi keju dan lumuran toping strawberry kemudian ada flavour vanilla susu juga tentunya durian. Ada tambahan marshmellow di atas dan bagian bawah diisi tjampolay syrup.

Sama seperti di atas, rasa durian mendominasi di sini, tapi karena yang memesan temanku, aku tidak begitu detail mengenai rasa Iced Durian varian ini.
  • Nasi Goreng (Rp. 20.000)
Photo By : Rafika Dian
Tidak ada yang spesial dari nasi goreng yang satu ini karena memang yang kami pesan nasi goreng biasa, bukan nasi goreng dengan embel-embel durian. Sama seperti nasi goreng pada umumnya, enak layaknya nasi goreng di warung nasi goreng.

Sebenarnya masih banyak olahan durian yang belum kucoba seperti Pancake Durian dan Nasi Goreng Durian, mungkin lain kali bisa kucicipi. Untuk kunjungan pertama agak kecewa dengan Iced Durian yang 'terlalu durian' padahal komposisi durian hanya 75%. Untuk Nasi Goreng karena memang bukan menu utama jadi tidak ada yang istimewa, kalau Nasi Goreng Durian mungkin akan berbeda. Lain kali, semoga olahan durian yang lain bisa lebih memuaskan tidak hanya sekadar dahaga durian, tapi memang dahaga lidah.

Bagi pecinta durian, terutama yang tinggal di Bintaro dan sekitarnya, tempat ini wajib didatangi, dimana lagi ada tempat yang melegakan dahaga durian kita tiap saat tanpa harus menunggu musim durian. Alamatnya di Jl. Bintaro Utama 5 Blok EA No. 18b - Tangerang Selatan. Untuk rentang harganya dari mulai Rp. 15.000 - Rp. 30.000 untuk berbagai olahan durian tapi kalau mau 100% Durian atau Pancake Durian yang paket bisa sampai Rp. 130.000. Nah, kalau mau lebih lengkap, nih kepoin aja di :

IG : @durian911
Hastag : #durian911
Twitter : @911pancake
Line, wa, phone : 08 9999 16864
Line official : @911durian
Email : official@durian911.co.id
Baca lanjutannya →

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *