Kidzania Jakarta Tempat Rekreasi Sekaligus Belajar Yang Paling Menyenangkan Bagi Anak

Tiket Kidzania Jakarta
Memang hari libur dan weekend merupakan hari yang paling tepat untuk melakukan liburan bersama keluarga. Terlebih bagi anak anak yang dihari biasanya disibukkan dengan waktu bersekolah. Sehingga tindakan yang paling tepat bagi orang tua jika di hari libur dan weekend, membawa si kecil rekreasi.Tetapi tidak boleh sembarangan memilih tempat wisatanya, pilihlah tempat wisata yang menarik dan dapat memberikan edukasi bagi anak. KidZania Jakarta merupakan salah satu tempat rekreasi sekaligus belajar yang paling menyenangkan bagi anak anak.

KidZania Jakarta ini adalah sebuah “kota” mini yang dirancang khusus bagi anak anak usia 2 hingga 16 tahun. Kota mini ini dibangun sama persis dengan kota aslinya yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang dan aktivitas untuk segala profesi. Di KidZania Jakarta para pengunjung dituntut untuk memainkan berbagai profesi yang diinginkan dengan fasilitas lengkap sama seperti profesi aslinya. Disini anak bisa memainkan berbagai profesi seperti polisi, koki, dokter, pilot, penyanyi, ilmuwan, penyiar, dan profesi lain yang diinginkan si kecil. Masing masing profesi dibekali dengan fasilitas yang lengkap seperti peralatan kedokteran, ruang penyiaran, laboratorium, dan yang lainnya.

Desain KidZania Jakarta mengusung konsep taman edutainment untuk memberikan hiburan yang mendidik bagi anak anak. Anak anak yang berkunjung kesini akan dididik menjadi mandiri, dapat bertanggung jawab, aktif berkomunikasi, dan juga mengenal proses dari profesi yang sedang dimainkannya. Disini anak anak akan merasakan pengalaman yang berharga dari keseruan berbagai profesi yang dimainkannya, dimana mereka akan dipandu oleh Zupervizor profesional. Dengan adanya pembelajaran yang seperti ini maka sangat baik untuk bisa menentukan bakat dan minat si kecil dimasa mendatang.

Jika membicarakan masalah harga tiket masuknya, memang harga tiket kidzania Jakarta ini bisa dibilang cukup mahal tetapi ini sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan dan pengalaman yang akan didapatkan. Harga tiketnya itu berbeda beda bergantung kepada umur pengunjungnya.

Berikut daftar harga tiket masuk KidZania Jakarta September 2019 :
Jenis Tiket
Senin-Jumat
Sabtu & Minggu
Batita (2-3 tahun)
Rp. 50.000
Rp. 100.000
Anak (4-16 tahun)
Rp. 225.000
Rp. 275.000
Dewasa (17-64 tahun)
Rp. 175.000
Rp. 225.000
Senior (65 tahun ke atas)
0*


Untuk manula diatas 64 tahun tidak perlu membayar tiket masuk KidZania Jakarta, dengan syarat manula tersebut membawa 2 anak dengan usia 4 hingga 16 tahun atau balita dengan usia 2 hingga 3 tahun. Harga tiket tersebut sudah mencakup seluruh aktivitas yang ada didalam KidZania Jakarta, bergantung kepada bagaimana memanfaatkan waktunya supaya lebih efektif.

Untuk keamanan, pengunjung diharapkan membawa KTP jika membawa 2 anak atau lebih. Bagi pengunjung yang sedang ulang tahun disediakan juga paket khusus yaitu dapat beraktivitas sepuasnya di establishment favorit.

Untuk waktu operasionalnya, Jam Buka KidZania Jakarta :
• Senin – Kamis 09.00 – 16.00 WIB
• Jumat – Minggu Sesi 1 09.00 – 14.00 WIB
• Jumat – Minggu Sesi 2 15.00 – 20.00 WIB

KidZania Jakarta buka setiap hari dan bahkan dihari weekends dan hari libur nasional mulai dari pukul 09.00 WIB. Pada hari biasa (Senin – Kamis) akan buka mulai dari pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Sehingga untuk bisa melakukan segala aktivitas yang ada di KidZania Jakarta, pengunjung memiliki waktu 7 jam. Sedangkan dihari Jumat dan weekends, dapat dinikmatinya waktu lebih lama dalam 2 sesi.

Sumber Gambar: Quinn Kampschroer
Baca lanjutannya →

Gundala: Awal Mantap Jagat Sinema Bumi Langit

Bumilangit Cinematic Universe (BCU) alias Jagat Sinema Bumi Langit, sebuah project prestisius yang akan dimulai dengan Gundala karya Joko Anwar. Salah satu awal yang bisa menjadi masa depan film Indonesia yang tidak lagi dipenuhi menye-menye atau horor kelas B.

Sancaka hidup di jalanan sejak ditinggal ayah dan ibunya. Menghadapi hidup yang keras, Sancaka belajar untuk bertahan hidup dengan tidak peduli dengan orang lain dan hanya mencoba untuk mendapatkan tempat yang aman bagi dirinya sendiri. Ketika situasi kota semakin tidak aman dan ketidakadilan merajalela di seluruh negeri, Sancaka harus buat keputusan yang berat, tetap hidup di zona amannya, atau keluar sebagai Gundala untuk membela orang-orang yang ditindas.

Melihat suasana (yang sepertinya) Jakarta di film ini, jadi teringat kekacauan Tokyo yang cuma diperlihatkan Makoto Shinkai di Weathering With You. Sama seperti Makoto, Joko Anwar bisa memperlihatkan sebuah kota yang sangat dekat dengan kenyataan walaupun sebenarnya bukan seperti itu.

Sancaka kecil dididik menjadi seorang yang berjuang untuk rakyat. Ayahnya adalah pemimpin perlawanan penindasan namun tidak melawan dengan barbar. Ibunya pun mendukung sang ayah. Sayangnya mereka meninggalkan Sancaka. Masa kecil Sancaka sepeninggal orangtuanya dihabiskan di jalanan yang keras, membuatnya memiliki cara pandang berbeda tentang bertahan hidup.

Cerita Sancaka kecil cukup "menyita" waktu dari film ini. Walaupun begitu, ini memang demi penonton mengenal lebih jauh bagaimana kehidupan Gundala kecil. Tiap adegan Sancaka kecil penting untuk diperlihatkan, bukan seperti kisah Anna-Minke yang terkesan dilama-lamakan.

Sancaka dewasa (Abimana Aryasatya) awalnya masih berpegang teguh pada pedoman "masa bodoh" dengan sekitar. Namun ketika kekuatan petirnya muncul, pesan ayahnya terngiang lagi. Perubahan pola pikir Sancaka di film ini sangat make sense. Dinamika kehidupannya diperlihatkan secara gamblang sehingga tidak ada perubahan yang tiba-tiba. Pun Sancaka bukan seorang yang sangat idealis dengan ingin menolong orang. Ia juga mengalami masa-masa saat ia tidak peduli.

Berbeda dengan Pengkor (Bront Palarae), masa kecil yang suram dan keberhasilannya memberontak membuatnya menjadi seorang villain. Ia merasa berhasil menguasai dunia dan harus mempertahankannya. Tipikal penjahat yang tidak bisa apa-apa namun punya kuasa. Tentunya bisa ditebak akan seperti apa nasibnya.

Gundala bukan seperti Iron Man. Sama-sama pembuka suatu Universe namun Gundala memang dipersiapkan untuk menjadi pondasi dengan visi jauh ke depan. Banyak easter egg yang diperlihatkan di film ini. Sebut saja Wulan (Tara Basro) yang akan menjadi Merpati dan Awang kecil yang nantinya adalah Godam. Ini bukan spoiler, kedua orang itu sudah muncul di trailer dan ada dalam list superhero BCU. Tenang saja, selain mereka masih ada kejutan yang dipersiapkan. Silahkan ditonton.

Berbicara mengenai CGI, tentu saja Indonesia tidak bisa disandingkan dengan prosuden film luar apalagi Marvel Cinematic Universe. Ini bukan berarti penonton harus memaklumi apabila ada film Indonesia yang sekelas Naga Indosiar. Tapi, Gundala tidak seburuk itu. Walaupun sekali lagi, jauh bila dibandingkan CGI film luar. Soal CGI, maklumi saja. Toh, menurutku sudah lumayan.

Kostum Gundala memang dibuat merakyat. Joko Anwar pernah mengatakan hal tersebut. Kalau ada yang mencibir dengan kostum, memang apa yang salah? Ingat film Spiderman-nya Tobey Maguire? Bagaimana kostumnya. Gundala adalah pahlawan rakyat, ia bukan seorang kaya raya seperti Tony Stark atau Bruce Wayne. Nikmati saja kostumnya.

Tone film terlihat begitu dark di trailer. Sepanjang film juga kebanyakan kelihatan seperti itu. Apalagi dengan adanya Joko Anwar, bersiaplah dengan beberapa adegan "rasa" horor. Tapi tidak sepanjang film semuanya gelap, ada beberapa komedi yang dihadirkan. Bisa dibilang Gundala lebih condong ke DCEU namun dibumbui MCU. Namun, sekali lagi ini adalah BCU. Universe karya anak bangsa.

Mantap dan ambisius. Begitulah Gundala yang hadir di bioskop mulai tanggal 29 Agustus 2019 ini. Promosi yang sangat gencar bahkan memperkenalkan universe langsung di awal peluncuran film pondasi tentu langkah yang sangat berisiko. Itu juga sebabnya film ini dipenuhi easter egg yang berhubungan dengan film setelahnya. Tapi, kisah Sancaka membela rakyat tetap berhasil ditunjukkan. Film ini bukan cuma berisi "sempilan" BCU.

Pecinta film superhero dan rakyat Indonesia, wajib nonton Gundala. Apresiasi dan kritik dengan logika, jangan asal bernarasi. Film ini bisa menjadi salah satu arus perubahan film tanah air ke arah yang lebih baik. Jangan terus menghujat tanpa apresiasi namun jangan juga gila memuji tanpa ada kritik membangun.

Intinya, TONTON DI MINGGU PERTAMA PENAYANGAN!
Baca lanjutannya →

Berlatih Panjang Tebing di Exit

Setelah bernostalgia dengan Makoto Sinkai di Tenki No Ko, kali ini aku menonton Exit. Dua bulan lalu tentu masih segar di ingatan tentang betapa mindblowing-nya Parasite. Bagi yang juga sudah menonton Extreme Job, genre yang diambil oleh film ini tidak berbeda jauh dengan film tersebut.

Exit bercerita tentang Yong-nam (CHO Jung-seok), salah satu pemanjat tebing terbaik di perguruan tingginya. Kesuksesannya di panjat tebing tidak diiringi dengan keberhasilan karir. Ia bertahun-tahun menganggur dan bergantung pada orangtuanya. Yong-nam berencana membuat pesta ulang tahun untuk ibunya dalam rangka balas budi sekaligus bertemu wanita impiannya, Eui-ju (LIM Yoona, Girls Generation) yang bekerja di sana.

Saat sedang bersenang-senang, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengerikan. Seoul diselimuti oleh gas beracun yang mematikan. Yong-nam harus menggunakan keterampilan panjat tebingnya dengan bantuan Eui-ju untuk menyelamatkan semua orang dan tentu saja diri mereka.

Sebagai film disaster komedi, Exit cukup menghibur. ketegangan memang dibangun tanpa henti. Tapi selipan komedi selalu ada ditengah suasana mengerikan sehingga penonton tidak kelelahan mengikuti petualangan Yong-nam dan Eui-ju.

Sebagai film bertahan hidup, fokus pada Exit memang perjuangan para tokohnya menghadapi bencana yang terjadi. Penggalian tokoh tidak terlalu dalam namun secara cerdas dapat diselipkan lewat komedi.

CGI dalam film ini juga lumayan rapi walaupun ada beberapa detil yang masih terlihat tidak nyata namun secara keseluruhan sangat nyaman dipandang. Tentunya tidak bisa dibandingkan dengan "Animal Planet" ala Disney. Tapi ada satu bagian yang tidak masuk akal, yaitu ketika ada drone. Apakah semudah itu mengaitkan tali dengan menggunakan drone?

Bertahan hidup tidak seperti di film-film. Ungkapan itu sangat cocok dengan Exit. Begitu banyak kebetulan dan keberuntungan yang dihadapi oleh para tokoh di tengah situasi yang mustahil selamat. Tapi sekali lagi, film tidak bisa dijadikan rujukan untuk bertahan hidup.

Secara keseluruhan Exit sangat cocok ditonton untuk bersantai di akhir pekan. Memang adrenalin kita akan dipacu, namun selingan komedinya mampu menenangkan. Apalagi fans SNSD, Yoona, ataupun Cho Jung-seok, film ini tidak akan mengecewakan kalian
Baca lanjutannya →

Gadis Matahari 100 Persen di Weathering With You

Film animasi Jepang kembali mengambil perhatian dunia. Setelah sebelumnya ada Kimi No Nawa, Koe No Katachi, dan sekarang Weathering With You. Makoto Shinkai dengan kesuksesannya di Kimi no Nawa, kembali menggunggah publik dengan Weathering With You.

Sejak ada informasi Makoto Shinkai membuat film, aku selalu mengikuti perkembangannya. Pertama kali Radwimps mengeluarkan single untuk Ost. Weathering With You, langsung kujadikan playlist favorit tiap hari. Ini adalah salah satu film yang kutunggu (selain Conan) sejak kekaguman pada Kimi no Nawa.

Hodaka adalah seorang murid SMA yang kabur dari rumah menuju Tokyo. Di tengah perjalanan, ia diselamatkan Mr. Suga. Setelah frustasi tidak mendapatkan pekerjaan di Tokyo karena tidak punya KTP dan belum lulus sekolah, Tuan Suga menjadi solusi. Suatu hari, ia bertemu dengan Hina. Hina ternyata adalah 'Gadis Matahari 100 Persen'! Apa itu? Tonton filmnya.

Sama seperti Your Name, Weathering With You juga masih mengandalkan sisi fantasi dan romance yang kuat. Gubahan musik Radwimps mampu membangkitkan emosi di tiap adegan. Benar-benar merasuk ke dalam jiwa.

Penokohan Hodaka sangat bagus. Sebagai orang yang berasal dari kampung, kepolosannya begitu terasa di tiap adegan. Di lain sisi, Hina yang sudah terbiasa mandiri terlihat begitu kuat. Ini menunjukkan kalau pengalaman bisa menempa seseorang menjadi lebih tangguh sekalipun perempuan.

Tidak dijelaskan secara detil kisah hidup Tuan Suga namun cukup mewakili 'orang dewasa' dalam film. Natsuma juga tidak banyak tampil tapi memiliki peran kunci. Nagi yang menjadi senpai Hokada juga lumayan mencuri perhatian. Para tokoh pendukung di film ini benar-benar mengambil porsi dengan pas. Tidak ada yang sia-sia dari mereka. Latar tempat yang diambil cukup detil, salut dengan artistik dari film ini. Selain terpukau karena gambarnya, siap-siap dengan easter egg dari Kimi no Nawa.

Emosi penonton benar-benar diaduk di film ini. Jokes yang dihadirkan dijamin membuat orang tertawa dan setelahnya beralih ke adegan yang menguras air mata. Tidak garing seperti Asterix tentunya. Sebuah pilihan yang bagus membuat penonton rileks dengan beberapa komedi agar tidak kehabisan energi untuk beremosi.

Sebenarnya salah satu yang terasa kurang adalah endingnya. Memang ini ending yang didambakan. Tapi, ini tidak semengejutkan Kimi no Nawa. Tidak se'parah' itu. Ya, Makoto Shinkai memang harus memilih. Mengulang formula yang sama atau mengubahnya. Ia memilih opsi kedua.

Secara keseluruhan, Tenki no Ko merupakan sebuah jawaban atas dahaga para penonton Kimi no Nawa dengan karya Makoto Shinkai. Berhasil mengurasi emosi dan membuat takjub. Hanya saja menurutku di bagian ending belum bisa menandingi masterpiece-nya. Setidaknya, film sangat wajib untuk ditonton!
Baca lanjutannya →

Pasar idEA, Pesta Offline Diskon E-Commerce

Belanja adalah kebutuhan tiap manusia. Zaman dulu, pasar adalah tempat paling banyak dikunjungi terkait belanja. Ketika globalisasi mulai menjamah, mall menjadi alternatif. Sekarang, toko online dan marketplace di dunia maya menjadi yang paling ramai diantara semuanya. Nah, pasar idEA mencoba untuk menghadirkan toko online di dunia nyata.

Apa itu Pasar idEA?

Pasar idEA adalah festival belanja online to offline pertama dan terbesar di Indonesia. Pasar idEA diadakan di JCC Senayan dari tanggal 15 sampai 18 Agustus 2019. Waktu yang cukup singkat untuk berburu diskonan tapi lumayan ampuh memperkenalkan dagangan di dunia maya.

Salah satu tujuan festival ini adalah membangun sinergi antara pelaku usaha, pemerintah, komunitas dan masyarakat agar mempunyai semangat yang sama untuk memperkuat ekosistem digital. Tantangan yang sedang dihadapi Indonesia sekarang adalah meningkatkan volume dan daya saing produk lokal di pasar e-commerce. Itu yang dikatakan oleh Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung.

Menggaet Konsumen yang Belum Tersentuh

Salah satu tantangan di industri e-commerce adalah kurangnya kepercayaan masyarakat bertransaksi online. Pasar idEA menjadi ajang untuk menumbuhkan kepercayaan tersebut. Dengan kata lain, acara ini ingin mempopulerkan belanja online bagi konsumen yang belum tersentuh. Konsumen yang dimaksud jumlahnya lumayan banyak. Survei APJII menyebutkan bahwa dari 171,17 juta jiwa pengguna internet aktif, 56% atau 95,76 juta jiwa masih belum pernah berbelanja online.

Edukasi UMKM

Selain mencari para konsumen baru, Pasar idEA juga menjadi ajang UMKM mengembangkan usahanya. Di zaman digital, tentunya berbisnis secara konvensional sudah tidak bisa diandalkan lagi. Untung mengatakan bahwa kalangan UMKM harus bisa mengenal ekonomi digital. Ia menambahkan bahwa di acara ini akan ada diskusi yang membahas hal tersebut.

Menargetkan Kunjungan, bukan Penjualan

Tidak seperti festival belanja lainnya, Pasar idEA menargetkan pengunjung di acaranya, bukan penjualan. Gelaran ini menargetkan 120.000 pengunjung selama empat hari. Kenapa pengunjung? Seperti disebutkan di atas, Pasar idEA ingin membangun sinergi dari semua kalangan untuk mengembangkan ekonomi digital di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap e-commerce. Hal ini dibarengi dengan edukasi bersama UMKM agar mereka bisa melebarkan sayap ke dunia digital.

Target 120.000 pengunjung didukung dengan menghadirkan sekitar 250 peserta pameran yang terdiri dari para unicorn, pelaku usaha e-commerce, perusahaan logistik dan pengiriman, serta UMKM dengan produk lokal yang terkurasi di area khusus LokalGood. Selain masyarakat dan pelaku bisnis, perusahaan logistik dan pengiriman tentunya memiliki peran kunci dalam ¬e-commerce sehingga mereka juga hadir di sini.

Berburu Travel bersama Blibli

Dari sekian banyak ¬e-commerce yang ada di Pasar idEA, salah satu yang aku kunjungi adalah Blibli. Salah satu yang mereka adakan di sini adalah Blibli Travel Fair. Menariknya, ini adalah pertama kalinya Blibli mengadakan Travel Fest Offline. Mereka juga pernah mengadakan Travel Fest namun dalam bentuk online.

Kenapa Travel?

Perlu diketahui kalau Blibli bekerjasama dengan Kemenpar untuk menaikkan destinasi wisata. Ini juga yang membuat perusahaan ini berfokus di travel di samping 16 kategori yang ada di platform ini. Terkait travel, Blibli menyediakan berbagai kebutuhan pendukung travel seperti tour guide, visa, travel assistance, dll.

Penuh Diskon!

Dewasa ini, produk travel terus berkembang bahkan bagi kaum milenial dijadikan gaya hidup. Data Nielsen menyebutkan 50% dari pencari produk travel dilakukan lewat platform online. Inilah peluang yang diambil Blibli. Kerennya lagi, di Pasar idEA ini mereka memberikan diskon hingga 80% dengan maksimum 1.8 juta. Sebagai anak rantau, diskon ini tentunya bisa kugunakan untuk pulang ke kampung halaman.

Banyak yang bisa dikunjungi di Pasar idEA. Selain bisa hunting barang diskonan, kalau mau memulai bisnis juga ada. Mulai dari reseller sampai jasa pengiriman lengkap di sini. Kebetulan karena aku ingin pulang kampung, aku mencari diskonan tiket pesawat dan ada Blibli Travel Fest di sini.

Semoga adanya Pasar idEA bisa menaikkan level UMKM di Indonesia dan membuat ekonomi digital di bumi pertiwi semakin mumpuni. Ditunggu festival belanja selanjutnya untuk berburu lagi! Jangan lupa, terus dukung UMKM dengan belanja pintar produk lokal agar produk lokal mendunia!
Baca lanjutannya →
IBX59EADF1D9DDBB

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Ikuti lewat Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *