Agar Foto Makanan Lebih Aesthetic

Jadi begini, dahulu kala ada seorang petualangan bertama Bapak Tala. Beliau adalah penggemar makanan yang dibakar seperti ayam bakar, daging yang ditusuk lalu dibakar, apalagi bebek bakar. Bagi kalian yang sering makan ayam, cobalah sesekali bebek. Sumpah itu bebek enak... banget rasanya. Gak percaya? Coba aja.

Nah, bagi yang suka kuliner nih pasti udah jadi kebiasaan futu-futu sebelum makan. Kalau zaman dahulu berdoa sebelum makan, sekarang foto sebelum makan. Rasanya tidak afdhol kalau tidak ada makanan di dalam story instagram sebelum makan. Seperti sayur tanpa garam. Walaupun enak, tetap rasanya hambar.

Tapi ingat, jangan asal jepret atau cekrek sana-sini. Ada aturan biar foto kalian lebih aesthetic. Gimana itu? Jadi gini caranya:

1. Pakai Porsi yang Sedikit  

Biasanya kan makan kebanyakan orang itu porsinya penuh, tapi kalau dalam fotografi disarankan untuk memakai porsi sedikit. Kenapa? Karena dengan begitu perhatian akan lebih terfokus kepada makanan. Kalau porsi penuh, bisa kebayang bakal buyar perhatian karena banyaknya komponen yang ada.

2. Gunakan Sudut (Angle) yang Berbeda

Orang selalu mencari sesuatu yang baru. Jangan terlalu terpaku pada teori dan kebiasaan. Ambil saja angle yang agak nyeleneh agar foto kalian lebih dilirik. Kan biasanya sesuatu yang 'beda' itu lebih diperhatikan. Ingat juga untuk pakai angle berbeda untuk jenis foto yang berbeda. Kenapa? Karena belum tentu angle bagus ketika mengambil foto ayam bakar juga akan terlihat menggiurkan apabila diterapkan di bebek bakar.

3. Jepret dengan OPPO

Nah ini yang paling penting. Pilihlah alat untuk mengambil foto dengan baik dan benar. Saranku sih kalian pakai oppo. Kenapa? Karena gawai ini udah terbukti kalau masalah dalam pengambilan gambar. Buat swafoto aja bikin hasil foto yang sangat memuaskan, apalagi untuk foto makanan.

Jadi, itu tadi aturan agar foto makanan kalian lebih aesthetic. Silahkan diterapkan dan rasakan perbedaannya.

Sumber gambar :
* https://rejekinomplok.net
* https://www.blibli.com
Baca lanjutannya →

Justice League : Bangkitnya Superman

Everybody knows that the dice are loaded
Everybody rolls with their fingers crossed
Everybody knows the war is over
Clark Kent alias Superman (Henry Cavill) sebagai lambang harapan dunia sudah mati, dunia berkabung atas kepergiannya. Scene awal sungguh menyentuh. Kesedihan dunia benar-benar tergambar. Aku sendiri sampai mengingat-ingat bagaimana harapan dibawa oleh Superman di film-film sebelumnya.

Villain alias musuh para pahlawan super di film 'Justice League' adalah Steppenwolf (CiarĂ¡n Hinds). Setelah di masa lampau dikalahkan karena persatuan kaum Manusia, Amazon, dan Atlantis, Steppenwolf kembali untuk menuntaskan keinginannya menciptakan 'persatuan' ketika tau dunia sudah ditinggalkan Superman.

'Kotak Ibu' adalah alat Steppenwolf untuk 'menyatukan' Bumi. Tiga kotak masing-masing disimpan oleh tiap kaum dengan sangat rahasia dan dijaga ketat. Kotak kaum Amazon yang pertama diambil Steppenwolf. Hal ini membuat Bruce Wayne alias Batman (Ben Affleck) dan Diana alias Wonder Woman (Gal Gadot) langsung bergerak mencari bala bantuan. Mereka adalah Barry Allen alias The Flash (Ezra Miller), Arthur Curry alias Aquaman (Jason Momoa), dan Victor Stone alias Cyborg (Ray Fisher).

Zack Snyder berhasil memperkenalkan tiga karakter baru sekaligus dalam waktu kurang dari 2 jam. Walaupun baru muncul tapi secara garis besar karakter Flash, Aquaman, dan Cyborg berhasil dijelaskan oleh Zack. Dan yang menjadi daya tarik tentunya Diana. Pesona Gal Gadot bagiku kembali membuat terpana di sini.

Minggu sebelumnya kita disuguhkan dengan Thor : Ragnarok. Tawa penonton pecah sepanjang film. Di Justice League, suasana tegang yang mendominasi. Tapi tetap ada beberapa kali humor renyah yang menstabilkan adrenalin. Adegan aksinya cukup seimbang. Tidak hanya bergantung pada pertarungan melawan Steppenwolf, para pahlawan super mendapatkan porsinya masing-masing untuk unjuk gigi.

Bagiku Justice League adalah ajang penghidupan Superman. Eh, bukannya dia mati? Memang DC 'menyembunyikan' Superman dengan sangat baik saat promosi baik poster maupun trailer. Menurutku ini bukan spoiler, jadi aku katakan saja. Superman hidup lagi. Bagaimana caranya? Aku sendiri tidak terpikir dia akan dihidupkan dengan cara seperti itu.

Secara keseluruhan, film ini patut ditonton. Tapi jangan harap Justice League akan seperti Thor : Ragnarok yang penuh dengan komedi. Ingat, ini DC bukan Marvel. Namun ada satu hal yang menurutku cukup menggelitik, kalau Thor dan Loki punya strategi 'Get Help', Bruce punya strategi 'Big Gun', walaupun dengan cara yang berbeda tapi menurutku dua strategi ini sama-sama nyeleneh.

Nikmati film ini dengan meresapi duka dunia ketika kehilangan Superman dan fokus pada tiap aksi para karakternya. Dan ingat, jangan keluar studio sebelum credit selesai karena akan ada 2 post-credit scene yang patut ditunggu. Tenang, DC tidak seperti Marvel. Setidaknya di credit scene kedua film ini.

Oh iya, ini aku sertakan video dari cuplikan lirik lagu di atas. Mungkin setelah menonton filmnya mau mendengarkan lagi atau mau mendengarkan dulu sebelum menonton dipersilahkan.
Baca lanjutannya →

Marlina, Film Satay Western Pertama Nusantara

Janda dan tinggal di rumah yang ditemani kesendirian. Sudah tanpa suami, tanpa tetangga lagi. Perlukah Marlina dikasihani? Tidak. Begitu yang kiranya ingin disampaikan Mouly lewat "Marlina si Pembunuh Empat Babak".

Babak pertama. Perampokan. Marlina yang janda dan tinggal di tempat yang tidak ada sesiapa di sekitar didatangi kawanan perampok. Tujuh orang. Marsha Timothy memerankan Marlina dengan sangat baik. Marlina diperankan sebagai seorang wanita yang tanpa emosi meluap-luap. Sangat tenang malah.

Kawanan perampok dipimpin Markus (Egi Fadly). Terang-terangan dia mengatakan ingin merampok, menjarah ternak, dan meniduri Marlina. Gusarkah Marlina? Ya. Terlihatkah? Sedikit. Ia sadar kalau berteriak tidak ada yang mendengar, kalau berlari pasti akan terkejar. Jadi, empat tewas dan satu buntung di tangan Marlina.

Babak pertama habis.

Cerita selesai? Belum. Masih ada Perjalanan, Pengakuan, dan Kelahiran.

Walaupun sudah menghabisi perampok, Marlina merasa masih harus menuntaskan dendam. Membalaskan kebebasannya yang sudah ternodai. Dengan membawa kepala Markus, babak kedua dimulai.

Selain Marlina, Novi (Dea Panendra) juga merasakan beratnya beban hidup. Novi merupakan perempuan yang menahan berbagai tudingan karena hamil besar, 10 bulan belum juga melahirkan. Ada pula Mama penumpang (Rita Matu Mona) yang menggambarkan peran perempuan dalam rumah tangga keluarga besar.

Ketegaran perempuan-perempuan ini jelas tergambar saat senyum bengis Marlina tersungging kala satu per satu perampok tumbang karena racunnya. Juga ketika para lelaki ketakutan (bahkan kabur) melihat 'bawaan' Marlina, Novi dan Mama penumpang tidak menunjukkan reaksi seperti mereka.

Sayangnya kekuatan mereka masih terkukung di belakang para lekaki. Novi tetap berusaha keras meyakinkan suaminya tentang berbagai mitos kehamilannya dan Marlina hanya diminta sabar oleh polisi (Ozzol Ramdan) ketika mengadukan kasusnya.

Dari segi latar, pemandangan Sumba benar-benar memanjakan mata sepanjang film. Rasa deg-degan yang dirasakan bisa sedikit diredam ketika lanskap Sumba ditampilkan secara menyeluruh. Juga ketika 'sup ayam' dibicarakan.

Diberi genre sebagai satay western alias western-nya Indonesia (karena Indonesia terkenal dengan sate), film ini menunjukkan Marlina sebagai sang jagoan di tengah padang savana yang jauh dari aparat. Banyak kritik sosial terutama tentang hubungan lelaki dan perempuan yang jarang diumbar di sini.

Saya tau harus keluar dari zona nyaman agar bisa menikmati film saya. Tapi film seperti ini penting dibuat (juga ditonton) karena kita patut keluar dari zona nyaman agar bangsa bisa berkembang - Mouly
Baca lanjutannya →

Pingkan Melipat Jarak : Berkelana di Dua Dunia

Judul : Pingkan Melipat Jarak (Trilogi Hujan Bulan Juni #2)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi+121 halaman

Tanggal 2 November kemarin film Hujan Bulan Juni rilis. Adipati Dolken dan Velove Vexia dipercaya untuk menunjukkan kisah cinta Sarwono dan Pingkan di layar lebar. Di bulan Maret lalu penulis Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono meluncurkan tujuh buku sekaligus, termasuk buku kedua dari Trilogi Hujan Bulan Juni.

Haram membandingkan buku dengan film, begitu salah satu komentar Sapardi ketika ditanya soal film yang diadaptasi dari novel tersebut. Jadi aku tidak akan menyinggung sama sekali alur cerita filmnya di sini. Film dengan film, buku dengan buku.

Bagi yang belum membaca Hujan Bulan Juni, wajib untuk membacanya sebelum membaca ini. Karena ini trilogi, tidak ada alasan untuk langsung meloncat ke masa Pingkan hampir gila (atau malah sudah gila) karena Sarwono kalau belum tau kisah mereka ketika sedang menjalani perjalanan di Manado. Kalian perlu tau siapa itu Matindas dan Benny sebelum pergi berkelana bersama mabui. Dan Katsuo, lebih baik harus terbiasa menyebutnya si Sontoloyo.

Kalau sudah, silahkan lanjutnya membaca paragraf selanjutnya.
 Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya | Hal. 13
Setelah di buku pertama dimanjakan dengan berbagai narasi dari Sapardi. Buku kedua sejak awal sudah menarik paksa kita masuk ke dunia imajinasi. Walaupun di tiap adegannya Sapardi menunjukkan dengan jelas mana nyata mana maya, tapi beliau seakan tidak memberikan ruang untuk pembaca bernafas dengan terus menarik dari maya kembali ke nyata lalu pergi ke maya dan nyata, begitu terus. Sapardi pernah berkata ngos-ngosan ketika menulis Hujan Bulan Juni. Aku merasakan hal yang sama ketika membaca Pingkan Melipat Jarak.

Seperti judulnya, novel ini lebih banyak berada di dunia Pingkan. Juga Katsuo. Karena memang Sarwono sedang tidak sadarkan diri. Sesekali memang Sarwono hidup, tapi kali ini Sapardi banyak menceritakan pergelokan di dalam jiwa Pingkan.

Seperti dikatakan tadi, kisah novel ini berada di dua dunia. Maya mungkin bukan kata yang tepat untuk dunia selain nyata. Sepertinya lebih mudah kalau kubilang, gaib. Memadukan mitologi Jawa dan Jepang, bagi yang tidak mengetahui tentang kedua budaya ini, bisa jadi tidak paham di beberapa bagian, seperti aku. Tapi Pingkan juga (pernah menjadi) Manado yang bukan Jawa apalagi Jepang, kan?

Sebenarnya hanya ada sedikit pertanyaan yang disisakan di buku pertama. Tapi setelah beberapa kejadian terungkap, seperti yang dilakukan Pingkan dan Katsuo di Jepang, asal-usul Katsuo, masa lalu dan juga cintanya, malah pertanyaan makin banyak yang menyeruak.

Di penghujung halaman, hampir saja Pingkan dan Sarwono menuliskan nasibnya. Dan ketika menamatkan titik terakhir, aku baru ingat masih ada satu buku lagi. Ketika aku merasa akan ada jawaban sebelum halaman 'Tentang Penulis', fakta bahwa masih banyak yang perlu dipertanyakan. Siapa Galuh? Dimanakah Noriko? Juga Benny? Apakah Ino itu Matindas yang lain? Tenangkah Hayati di sana? Yang terpenting Sarwono Pingkan? Ataukah Sarwono Katsuo? Ah, asal jangan menjadi Ronin. Tapi bisa jadi. Benar, kan?
"Aku tidak mau menjadi Sadako Sasaki, Katsuo." - (Sepertinya) Pingkan | Hal.119
Teman-teman yang sudah membaca Hujan Bulan Juni, wajib membaca Pingkan Melipat Jarak. Bagi yang sudah menonton Sarwono yang dijelmakan Adipati, baca novelnya baru buku kedua. Tidak disarankan langsung ke Pingkan Melipat Jarak kalau belum tau cara bertutur Sapardi di Hujan Bulan Juni. Bagi yang belum dua-duanya, di toko buku masih banyak tersedia. Masing-masing hanya 100-an halaman, merugilah yang menyia-nyiakan kesempatan ini.
Baca lanjutannya →

Hujan Bulan Juni, Film Melebihi Ekspektasi

Puisi Sapardi dipadu di Manado Solo sampai UI juga Jepang ditambah hujan bulan juni bahkan ada Monita dengan Memulai Kembali. Ah, bagiku pribadi, film ini melebihi ekspektasi.

Pingkan (Velove Vexia), dosen muda Sastra Jepang Universitas Indonesia, mendapat kesempatan belajar ke Jepang selama 2 tahun. Sarwono (Adipati Dolken) nelangsa mendengar kabar ditinggal Pingkan, yang selama ini hampir tidak pernah lepas dari sampingnya.

Sarwono ditugaskan Kaprodinya untuk presentasi kerjasama ke Universitas Sam Ratulangi Manado. Sarwono pun membawa Pingkan sebagai guide-nya selama di Manado. Pingkan bertemu keluarga besar almarhum ayahnya yang Manado. Ia mulai dipojokkan oleh pertanyaan tentang hubungannya dengan Sarwono. Apalagi kalau bukan masalah perbedaan yang di mata mereka sangat besar. Bukannya Pingkan (dan Sarwono) tidak menyadarinya. Mereka sudah terlanjur nyaman menetap bertahun-tahun di dalam ruangan kedap suara bernama kasih sayang...

Apakah ini akan jadi perjalanan perpisahan mereka? (Sinopsis dari Cinema 21)

Daya tarik pertama dari film ini tentu saja puisi dari penyair senior Sapardi Djoko Damono (ini kalau Adipati dan Velove dikeluarkan dari daftar daya tarik). Kebanyakan puisi dibacakan oleh Pingkan karena yang membuat adalah Sarwono, walaupun ada juga puisi yang langsung dibacakan oleh Sarwono.

Chemistry Pingkan dan Sarwono yang sangat terasa membuktikan kepiawaian akting dari Adipati dan Velove. Baim Wong yang memerankan Benny, sepupu angkat Pingkan yang juga suka dengannya, mampu mengundang gelak tawa penonton karena perilaku konyolnya. Sapardi juga turut ambil bagian dalam peran di film ini. Walaupun hanya sebagai cameo, tapi peran beliau cukup penting. 

Selain dimanjakan oleh puisi Sapardi, pemandangan Manado mendominasi di awal sampai pertengahan film. Penonton dimanjakan oleh keindahan Bukit Kelong Tomohon, Danau Linow, Bukit Kasih Kanonang Patung Tuhan Yesus di Citra Land hingga Pantai Likupang. Di penghujung film, digantikan oleh Jepang dengan sakuranya. Latar lainnya adalah UI, terutama perpustakaannya dan ada juga Solo. Di beberapa scene terlihat rintik-rintik di genangan air, ini membuat aura 'hujan' begitu terasa.

Untuk pengiring musik, selain 'Hujan Bulan Juni' yang liriknya diambil dari puisi berjudul sama, ada Monita Tahalea dengan 'Memulai Kembali'nya juga menemani penonton. Single yang ada di album Dandelion ini rilis akhir tahun 2015, sempat kaget ada lagu ini karena kebetulan sekali ini adalah salah satu lagu favoritku. Alunan musiknya sangat menenangkan apalagi ditambah suara Monita yang syahdu.

Bagi pecinta sastra sangat disarankan menonton film ini, apalagi yang sudah membaca novel Hujan Bulan Juni ataupun kumpulan puisinya. Kalian bisa membandingkan visualisasi tentang karya Sapardi ini dengan yang ada di kepala Reni Nurcahyo Hestu Saputra selaku sutradara. Dan bagi yang bukan pecinta sastra, wajib nonton dan rasakan nikmatnya sebuah puisi.

Novel Hujan Bulan Juni sendiri sebenarnya adalah trilogi. Buku keduanya berjudul 'Pingkan Melipat Jarak' rilis bertepatan dengan ulang tahun ke-77 Sapardi. Jadi, apakah film ini juga akan dibuat trilogi?
Baca lanjutannya →
IBX59EADF1D9DDBB

Award

Blogger Energy
Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Follow by Email

Yang Mau Kontak-Kontakan

Nama

Email *

Pesan *